Taliban: Serangan Ini karena Kunjungan Obama

Kompas.com - 02/05/2012, 13:34 WIB

KABUL, KOMPAS.com - Satu bom mobil meledak dan milisi Taliban yang menyamar dengan mengenakan burka menyerang sebuah kompleks permukiman warga asing di Kabul, Afganistan, Rabu (2/5/2012).

Pihak Taliban mengaku bertanggung jawab atas serangan itu dan menyebutnya sebagai respons atas kedatangan Presiden AS Barack Obama.

Serangan itu terjadi beberapa jam setelah Obama meninggalkan negara itu setelah melakukan kunjungan mendadak selama sekitar enam jam.

Sedikitnya enam orang terbunuh dalam serangan yang terjadi pada sekitar pukul 6 pagi itu, kata pejabat berwenang. Ledakan dan tembakan terus terdengar dari kompleks dengan penjagaan tingkat tinggi yang dikenal sebagai Green Village.

Rangkaian ledakan itu terjadi pada pukul 06.00 pagi dan suara tembakan masih terdengar beberapa jam setelahnya. Sebuah ledakan besar terdengar dari dalam Green Village sekitar pukul 09.00.

Seorang polisi Afganistan mengatakan dua penyerang bunuh diri masih berada di dalam kompleks Green Village dan masih "melawan".

Menurut seorang saksi mata yang melihat awal serangan itu, para penyerang mengenakan burka. "Sebuah mobil berhenti dan enam orang mengenakan burka memasuki gang dengan membawa kantong-kantong besar. Ketika mereka masuk gang itulah suara ledakan terdengar," tuturnya.

Juru bicara Taliban Zabiullah Mujahid menyatakan pihaknya bertanggung jawab atas serangan yang direncanakan pada Selasa malam sebagai respons pada kedatangan Obama.

"(Serangan) ini merupakan reaksi atas kunjungan Obama ke Afganistan," katanya, tanpa memberi penjelasan lebih lanjut. Dikatakannya, targetnya adalah "pangkalan militer asing", seperti dikutip kantor berita AP.

"Hari ini seorang mujahid yang taat melakukan serangan bom bunuh diri di sebuah pangkalan militer asing di Kabul, disusul serbuan mujahid-mujahid taat lainnya ke pangkalan tersebut," katanya kepada AFP.

Kompleks Green Village merupakan tempat tinggal para staf PBB dan Uni Eropa di Afganistan, dan berdekatan dengan bandara utama yang sebelumnya juga diguncang ledakan bom yang diklaim oleh Taliban.

Serangan itu bertepatan dengan satu tahun tewasnya Osama bin Laden di tangan pasukan Navy SEAL AS. Dua pekan lalu, Kabul mendapat serangan terbesar dalam 10 tahun terakhir. Kelompok militan menyerang kantor-kantor pemerintah, kedubes serta pangkalan asing.

Salah satu serangan pertama adalah bom mobil yang meledak di Jalan Jalalabad, kata Sediqqi seperti dikutip AP. Sebuah minibus yang berjalan di lokasi saat ledakan terjadi pun ikut meledak dan menewaskan empat orang penumpangnya. Seorang pejalan kaki dan petugas keamanan juga menjadi korban.

"Lima warga sipil dan seorang penjaga tewas," juru bicara Kementerian Dalam Negeri Afganistan Sediq Sediqqi mengumumkan. Sediqqi menambahkan, target serangan adalah kompleks Green Village.

Menyusul serangan Rabu pagi tadi, Kedutaan Besar AS di Kabul mengatakan, gedung kedutaan besar itu tertutup serta memperingatkan stafnya untuk berlindung dan menjauhi jendela. Kedubes AS berlokasi di area utama diplomatik di pusat kota Kabul.

Melalui akun Twitter-nya, Kedubes AS juga memperingatkan warganya di negara itu. "Tiarap dan berlindung di sini di kedubes. Bukan latihan, hindari area," begitu bunyi pesan itu.

Kompleks Green Village, dengan tembok pelindung yang tinggi dan penjagaan yang sangat ketat sangat mirip dengan pangkalan-pangkalan NATO di Kabul. AP melaporkan dari lokasi, beberapa tentara Afganistan tampak memasuk kompleks itu, tak lama kemudian terdengar baku tembak dari dalamnya.

Sementara itu juru bicara pasukan NATO Kapten Justin Brockhoff mengatakan, tidak ada indikasi pangkalan NATO diserang.

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau