Pembangunan berkelanjutan

Ekonomi Ramah Lingkungan Tema Besar Rio+20

Kompas.com - 03/05/2012, 05:58 WIB

Jakarta, Kompas - Ekonomi ramah lingkungan akan menjadi salah satu tema besar sidang pleno pada Rio+20, Juni mendatang. Pada sidang pleno Rio+20, yang merupakan peringatan ke-20 Konferensi Tingkat Tinggi Bumi di Rio de Janeiro tahun 1992, akan dibahas dua tema besar.

Selain ekonomi ramah lingkungan, tema utama lainnya juga bagaimana meningkatkan kerja sama internasional untuk pelaksanaan pembangunan berkelanjutan. Selain itu, ada juga tujuh isu lain yang dibicarakan, yakni ekonomi ramah lingkungan, pengurangan risiko bencana, energi berkelanjutan, kelautan, kota, penanganan hutan, dan pengentasan rakyat dari kemiskinan.

Demikian diungkapkan Direktur Pusat Informasi PBB (UNIC) Michele Zaccheo yang didampingi Direktur Keuangan dan Administrasi Kehati Edison Hulu pada pertemuan dengan media, di Jakarta, Rabu (2/5).

Dua tema besar itu diambil untuk menyikapi jumlah penduduk dunia yang mencapai 7 miliar jiwa. Sekitar 1 miliar orang, kelaparan setiap hari.

Tema ekonomi ramah lingkungan menyangkut bagaimana membangun ekonomi ramah lingkungan untuk pembangunan berkelanjutan. ”Bagaimana melaksanakan ekonomi ramah lingkungan, membebaskan masyarakat dari kemiskinan, serta memberi dukungan kepada negara berkembang dalam prinsip pembangunan hijau,” ujar Michele.

Ekonomi hijau

Ekonomi ramah lingkungan mencakup empat hal. Pertama, soal pajak di negara maju untuk membantu negara berkembang. Kedua, soal insentif bagi investasi jangka panjang. Ketiga, pendanaan baru agar pengembangan pembangunan berkelanjutan bisa dilakukan, serta keempat, mencari cara memonitor pelaksanaan pembangunan berkelanjutan. Hal itu misalnya dengan indeks dan pengukuran—apakah suatu pembangunan bisa dikategorikan berkelanjutan atau tidak.

Adapun tema kerja sama internasional untuk pembangunan berkelanjutan mencakup empat isu. Pertama, terkait tata kelola pemerintahan. Kedua, soal menetapkan sasaran-sasaran pembangunan berkelanjutan. Ketiga, pembuatan laporan periodik soal pelaksanaan pembangunan berkelanjutan di suatu negara. Keempat, membentuk satu payung baru untuk pembangunan berkelanjutan.

”Pembentukan payung baru merupakan upaya meningkatkan pemahaman antarnegara tentang kebijakan pembangunan setiap negara sebagai harmonisasi komitmen internasional dengan pelaksanaan hingga ke tingkat pemerintah lokal,” katanya.

Menurut Koordinator Forum Masyarakat Sipil (CSO) Siti Maimunah, seusai mengikuti program belajar bersama menjelang Rio+20, belum tampak ada agenda signifikan dari Pemerintah Indonesia. Sementara laporan negara juga belum siap.

Pada rangkaian pertemuan Rio+20, 13-22 Juni 2012, akan berkumpul lebih dari 100 kepala negara. Tema Rio+20 adalah ”Masa Depan yang Kita Mau”. Warga biasa, pebisnis, akademisi, anggota parlemen, dan dari kelompok mayor (petani, perempuan, dan pemuda) dapat menyatakan keinginannya akan masa depan yang mereka inginkan.

Mereka bisa berpartisipasi dan berbagi ide di Facebook, Twitter dengan hashtag #Rioplus20 atau melalui situs www.un.org/futurewewant. (ISW)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau