Konflik mesuji

Bupati Mesuji: Warga Moro-Moro Jangan Diusir

Kompas.com - 03/05/2012, 11:02 WIB

BANDAR LAMPUNG, KOMPAS.com - Bupati Mesuji Khamamik mengatakan, perambah di kawasan Register 45 Mesuji memang perlu ditertibkan. Namun, itu terkecuali untuk warga Moro-Moro Way Serdang.

"Pokoknya, (warga) Moro-Moro tidak boleh diusir. Berbeda dengan yang di tenda-tenda, memang perlu ditertibkan. Perlu ada ruang, apakah mereka dilibatkan di HPHTI (hak pengelolaan hutan tanaman industri). Jangan hanya PT Silva yang bisa menguasai HPHTI," ujar Khamamik di sela-sela Seminar Pembangunan Infrastruktur dan Pengembangan Wilayah di Bandar Lampung, Kamis (3/5/2012).

Menurut dia, keberadaan warga Moro-Moro yang sudah lebih dari 15 tahun bertahan di Register 45 di Way Serdang tidak terlepas dari kelalaian PT Silva Inhutani selaku pengelola Register 45 Mesuji.

"Sudah terlanjur (mereka ada di sana). Ketika mereka mulai mendirikan tiang-tiang (rumah) pertama harusnya dari dulu dicegah. Singkong-singkong mereka pun juga ditampung Silva," ungkap bupati yang Masyarakat Moro-Moro mendiami kawasan Register 45 sejak 1997 menyusul "ditelantarkannya" sebagian kawasan hutan negara itu oleh PT Silva.

Mereka saat ini berjumlah lebih dari 3.000 keluarga. Mereka hidup bertahan dengan terabaikan hak-hak sipil dan sosialnya, sebab mereka dianggap ilegal menempati kawasan itu.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau