Yogyakarta

Sepeda Listrik Roda Tiga untuk Lansia dan Difabel

Kompas.com - 04/05/2012, 10:31 WIB

YOGYAKARTA, KOMPAS.com - Hobi bila ditekuni dan dinikmati sering melahirkan inspirasi dan kreasi yang bermanfaat untuk banyak orang. Hobi bersepeda yang ditekuni dan dinikmati Ir. Tri Herjun Ismadji dan teman-temannya sesama alumni teknik sipil Universita Gajah Mada yang memiliki kegemaran bersepeda santai, telah menghasilkan kreasi Sepeda Listrik Roda Tiga (SLRT) yang pertama di Indonesia.

Buah dari kegemarannya bersepeda di usia yang tidak muda lagi, Tri Herjun mencoba membuat rancangan sepeda yang mudah dikendarai terutama bagi lansia. Lalu ide tersebut diterjemahkan oleh siswa-siswa SMK yang tengah mengikuti pelatihan di Balai Latihan dan Pendidikan Teknik (BLPT) DIY. Hasilnya, lahirlah sepeda SLRT yang tidak hanya bisa dikendarai para lansia, namun juga para difabel dan anak-anak.

"Kita dari komunitas Sepeda Sehat Sipil (S3) UGM, dalam upaya memenuhi kegemaran kami untuk tetap bisa bersepeda di usia tua, kami coba membuat sepeda elektrik.dan akhirnya dengan anak-anak atau cucu-cucu dari SMK ini, dalam 21 hari bisa menghasilkan sepeda roda tiga ini," kata Tri Herjun Jumat (4/5/2012).

Sedikit berpromosi, mantan Sekda Pemprov DIY ini menyampaikan keunggulan sepeda multi guna kreasinya. Selain harganya yang relatif murah, SLRT dapat dipakai sebagai sarana olahraga, rekreasi dan niaga. "Dibanding dengan sepeda roda dua, SLRT lebih stabil dan bisa membawa beban hingga 150 kilogram. Sepeda ini juga dinamo listrik, untuk difabel yang tidak bisa mengayuh," katanya.

Sebagai sumber energi untuk menghidupkan dinamo listrik berkekuatan 350 watt, sepeda dilengkapi aki kering 12 Ampere yang sebelumnya harus di-charge selama 6-7 jam agar bisa menempuh jarak 60 kilometer dengan kecepatan 30-35 kilometer per jam.

Pada kesempatan tersebut, Tri Herjun juga menegaskan, sepeda listrik roda tiga ini pertama kali dibuat di Indonesia. Sejauh yang ia ketahui, belum pernah ada sepeda sejenis yang sudah diproduksi di dalam negeri. "Kalo pun ada, menurutnya jelas barang impor. Itu pun khusus sepeda lisrik roda tiga untuk para difabel yang tidak disertai alat pengayuh," katanya.

Meski sempat menyebutkan harga yang relatif murah, namun Tri Harjun belum berani menentukan harganya. Sebab, sepeda multiguna ini belum diproduksi secara massal. Namun dia meyakinkan harga satu sepeda lebih murah karena dibuat oleh bengkel lokal. Dia pun akan melayani jika ada pemesanan. "Kalo di luar negeri harganya mencapai 1000 hingga 1500 dollar, tapi SLRT ini jauh lebih murah," jawabnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau