Inilah Akibat Kurang Menangis

Kompas.com - 08/05/2012, 07:50 WIB

Kasus:

"Bang Jul, saya dimanjain habis sama bokap n nyokap (Papi n mami).  Sampai SMP semua kebutuhan saya disiapkan. Makanan, minuman selalu nyokap yang siapin. Supir dan pembantu rasanya dua puluh empat jam siap meladeni saya. Saya nangis sedikit saja, maka keinginan saya langsung dipenuhi nyokap.  Uang saku saya Bang Jul jangan tanya, berlebihan. Saya suka traktir teman di sekolah, dan saya dianggap pahlawan. Saya kemudian gaul dengan teman yang salah. Jangan heran, saat saya merasa susah  di SMP, teman mengenalkan saya ganja dan  langsung nyangkut. Setelah  ganja saya mengenal Putaw. Itulah sebabnya saya dirawat disini" ***)

Beberapa tahun yang lalu saat sedang studi S2 bidang konseling, saya sempat praktik kerja di sebuah klinik gangguan jiwa dan adiksi, di Jakarta selama satu tahun. Ada sekitar seratus klien dirawat disana, dan mayoritas klien penderita depresi akut dan skizofrenia. Selain itu ada sekitar 20an pecandu narkoba yang dirawat terpisah. Pecandu ini berusia 17 hingga 30 Tahun

Beberapa di antara mereka ada yang dirawat empat hingga enam tahun. Orangtua mereka hanya menitipkan dan membayar biaya. Merasa tidak sanggup menangani si anak dan  menyerahkan perawatan sepenuhnya ke klinik tersebut. Sebagian besar lainnya dirawat sekitar 2 bulan hingga setahun. Setelah pulih dikembalikan kepada orangtua.

Fenomena anak yang dimanjakan

Dari obrolan dengan salah satu staf senior di sana, ada sesuatu yang menarik. Dari hasil konseling para staf dengan si klien dan keluarganya ditemukan sebagian mereka adalah anak yang manja. Tepatnya anak yang dimanjakan. Mereka lahir dan tumbuh di keluarga yang berada, semua kebutuhan mereka terpenuhi.

Beberapa orangtua mengakui bahwa mereka terlalu memanjakan si anak sejak kecil. Kesibukan kerja membuat mereka lebih mengikuti kemauan anak. Pemanjaan sebagai jalan mengatasi rasa bersalah. Di rumah ada pembantu dan supir yang melayani mereka. Bahkan sampai anak SMP, untuk membuat minuman pun selalu sang Ibu menyediakan. Mengangkat tas ke mobil, dan sebagainya ada supir atau pembantu. Akibanya anak tidak mandiri.

Saat TK dan SD relatif mereka jarang menangis. Sebab apa saja keinginan mereka relatif dipenuhi. (lihat cerita di atas). Di sekolah dasar umumnya tuntutan tidak banyak dan guru umumnya bersahabat. Bahkan guru di kelas tidak hanya satu, tapi ada beberapa yang memaklumi mereka sebagai anak.

Namun saat masuk ke SMP, suasana nyaman di rumah dan di Sekolah Dasar mulai hilang. Saat memasuki usia remajalah anak yang biasa manja mudah terguncang. Mulai mengalami penolakan teman, diejek teman, dimarah guru di depan banyak teman saat tidak buat PR, dsb.

Ketika merasa ada tekanan, mudah stres. Lalu mencari teman curhat. Masalahnya adalah jika mendapat teman curhat yang salah. Di sinilah awal pergaulan yang salah dimulai, dan perkenalan dengan narkoba seperti kasus X di atas terjadi.

Akibat pemanjaan lainnya adalah Sebagian anak tumbuh dengan  daya juang yang rendah, dan daya tahan stresnya  kurang. Akibatnya anak mudah tertekan saat  keinginannya tidak tercapai. Kecewa dan stres saat nilainya rendah dsb. Apalagi ketika melihat orangtuanya mulai keras dan tidak seperti dulu.

Menunda keinginan anak

Dalam mengasuh anak, tidak semua keinginan anak haru dipenuhi. Sebagian perlu ditunda dan sebagian ditolak. Anak saat kecil belum bisa memahami apa itu keinginan dan kebutuhan. Pengaruh iklan dan teman, sering membuat anak meminta barang atau makanan yang dia rasa enak. Disini orang tua perlu menjelaskan, agar anak mengerti mana yang dia butuhkan, dan mana yang hanya dia ingin miliki.

Sejak kecil, kami membimbing anak untuk tidak menonton iklan. Setiap iklan mereka tukar channel TV ke siaran yang tidak ada iklan. Menjelang SMP mereka sudah lebih terbiasa dengan channel TV yang sedikit bahkan tanpa iklan (TV Kabel).

Kalau anak-anak bercerita tentang teman yang punya mainan ini dan itu, kami berusaha mendiskusikan beberapa hal: seberapa penting alat mainan itu. Latar belakang orangtuanya, dan kondisi kami sendiri. Membicarakan asas kemanfaatan mainan itu dsb. Kami juga mengajarkan apa itu keinginan dan apa itu kebutuhan.

Beberapa yang kami anggap anak memang butuh, kami tidak selalu langsung membelikannya. Kami mengajar anak untuk mendoakan, dan menunggu kami bisa membelikannya. Kami mengajar anak bahwa kalau barang mahal, kamipun perlu menabung dulu.

Ada kalanya anak kami menangis, bersungut sampai marah. Tapi kami biarkan. Toh nangis tidak membuat dia sakit. Setelah kami merasa waktunya membelikan, maka kami mengajak mereka membeli. Biasanya kami berikan mereka uang untuk membayarkan kepada kasir. Supaya mereka tahu berapa besar uang yang kami keluarkan untuk mainan atau barang itu. Inilah cara kami menunda keinginan anak.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau