JAKARTA, KOMPAS.com - Pakar Pendidikan Utomo Dananjaya mengaku prihatin dengan aksi corat-coret seragam oleh siswa sekolah dasar usai pelaksanaan ujian nasional (UN). Aksi tersebut dilakukan sebagai ungkapan siswa lepas dari tekanan UN.
"Saya tentu tidak setuju dengan aksi corat-coret, apalagi pelakunya siswa sekolah dasar. Anak-anak ini seharusnya mendapat pendidikan karakter yang baik," kata Utomo di Jakarta, Rabu (8/5/2012).
Lebih lanjut pakar pendidikan dari Universitas Paramadina itu mengaku sangat menyayangkan aksi corat-coret seragam sekolah terjadi setiap tahun seusai pelaksanaan UN. Aksi corat-coret dilakukan siswa, baik di tingkat SMA maupun SMP, bahkan menjalar ke anak-anak SD.
"Begitu selesai (UN) mereka merasa bebas melakukan apa saja, terutama di kota-kota besar," tambah Utomo.
Utomo menilai, UN terbukti tidak menjadikan anak giat belajar, tapi membentuk jiwa anak tertekan. Tak heran, kata dia, siswa melakukan upaya apa saja untuk berhasil dalam ujian, misalnya berbuat curang, menyontek, membeli naskah ujian dan kunci jawaban.
Ia juga mengaku setuju dengan putusan Mahkamah Agung (MA) yang menolak kasasi gugatan UN yang diajukan kepada pemerintah pada 2009. UN dinilai cacat hukum, dan pemerintah dilarang menyelenggarakan UN.
"MA sudah memutuskan bahwa UN itu cacat hukum. Bukan UN-nya yang salah, tapi UN itu mengabaikan hak-hak asasi manusia karena menimbulkan rasa takut," ujar dia.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang