AS Berikan Dukungan Logistik

Kompas.com - 10/05/2012, 02:20 WIB

Damaskus, Rabu - Kini nyaris tiada hari tanpa pembunuhan terhadap warga sipil oleh rezim Presiden Suriah Bashar al-Assad. Amerika Serikat pun campur tangan dengan memberikan dukungan logistik kepada oposisi agar negeri itu tidak jatuh ke dalam perang saudara.

Pada hari Rabu (9/5), pasukan rezim Assad membombardir kota Douma, di dekat Damaskus, ibu kota negara. Akibatnya, empat warga sipil tewas. Laporan lain menyebutkan, dua di antara korban tewas itu adalah tentara.

Sehari sebelumnya, pasukan pemerintah menewaskan lebih dari 10 orang dalam pertempuran di seantero Suriah. Setiap hari jatuh korban jiwa, yang terbanyak adalah warga sipil. PBB menegaskan, lebih dari 9.100 orang tewas sejak 14 bulan lalu. Lembaga Pemantau Hak Asasi Manusia Suriah mengatakan sudah hampir 12.000 orang tewas.

Demi menghindari kekerasan lanjutan, yang bisa menyeret Suriah terperosok ke dalam jurang perang saudara, AS mulai ikut campur tangan. Seperti dirilis Reuters, Rabu, AS telah terlibat memberikan dukungan logistik dan komunikasi bagi oposisi yang memerangi rezim.

Tidak diuraikan secara rinci bantuan logistik jenis apa yang diberikan AS. Sempat muncul isu, AS ikut mempersenjatai kaum oposisi, namun dibantah. Dikatakan, Washington menghindari pemberian senjata atau peralatan perang lainnya kepada kubu oposisi.

Pada hari Selasa, PBB mengatakan senjata telah diselundupkan dari dua arah antara Lebanon dan Suriah, tempat aksi perlawanan rakyat yang sudah berlangsung satu tahun dua bulan sejak pecah Februari 2011.

Rezim berulang kali menyatakan senjata diselundupkan melalui perbatasan dengan Lebanon dan negara lain. Senjata dipasok kepada oposisi yang sedang memerangi rezim Assad. Diplomat Barat dan pejabat PBB menyatakan, meskipun oposisi menerima senjata, mereka tetap kalah dibandingkan kekuatan rezim.

Mediator internasional Kofi Annan, Palang Merah Internasional, dan Liga Arab memperingatkan, Suriah mulai terperosok ke dalam perang saudara. ”Berdasarkan informasi yang kami peroleh ada aliran senjata dua arah, dari Lebanon ke Suriah dan dari Suriah ke Lebanon,” kata Terje Roed-Larsen, utusan khusus DK PBB yang menyerukan perlucutan senjata di Suriah.

Menurut Kofi Annan, situasi di Suriah saat ini ”sangat merisaukan”. Kekerasan oleh rezim Assad telah memasuki episode yang mengkhawatirkan. Berbicara di depan DK PBB di Geneva, Annan menegaskan kekerasan semakin dalam dan bisa menyeret Suriah semakin dalam ke perang besar sesungguhnya.

Perdamaian harus segera diwujudkan. Prioritas utama agenda damai yang diharapkan Annan saat ini adalah ”menghentikan pembunuhan”. Dunia internasional harus memikirkan solusi untuk mengakhiri kekerasan.

”Prioritas terbesar, terlebih dahulu, kita harus menghentikan pembunuhan,” kata Annan. Dia juga menambahkan enam poin rencana perdamaian yang dirintisnya merupakan ”satu-satunya kesempatan yang tersisa untuk menstabilkan negara itu”.

Jakob Kellenberg dari Komisi Palang Merah Internasional mengatakan, pertempuran sudah semakin intens di beberapa wilayah Suriah. Keadaannya semakin memburuk. Perang saudara sesungguhnya sudah terjadi di beberapa wilayah. Dia berharap apa yang diupayakan Annan tidak sampai gagal.

Gencatan senjata seharusnya sudah dilakukan sejak 12 April. Pasukan rezim dan oposisi malah mengabaikan peringatan internasional. (REUTERS/AFP/CAL)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau