Kecelakaan krl dan taksi

Bermula dari Kebiasaan Buruk Pesepeda Motor

Kompas.com - 10/05/2012, 06:02 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Kecelakaan yang melibatkan KRL dan tiga kendaraan di pelintasan kereta api Volvo, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Rabu (9/5/2012) malam, tak lepas dari faktor kebiasaan buruk pesepeda motor di kawasan itu.

Antrean kendaraan roda dua yang memilih menggunakan jalur berlawanan arah kerap menghambat kendaraan yang harus melintas di lokasi tersebut. Lebih fatal lagi, lokasi hambatan tersebut terletak tepat di lokasi pelintasan kereta.

"Sebenarnya sudah biasa macet di sini (pelintasan kereta). Gimana enggak macet, kendaraan dari sebelah sulit lewat karena motor-motor dari arah Kalibata sudah penuh di jalur sebelah," kata Didik yang berdiam beberapa meter dari lokasi kejadian.

Ujung Jalan Rawajati Timur yang masuk wilayah Pasar Minggu itu memang rentan kecelakaan fatal setiap pagi dan sore hari, termasuk pada jam-jam yang terbilang sepi arus kendaraan. Lokasi di jalur alternatif dari Pasar Minggu menuju Kalibata-Cililitan itu memang selalu ramai dilalui kendaraan.

Akibat kondisi jalan yang sempit di dekat pelintasan sebidang, antrean depan pintu kereta yang terletak sekitar 1 kilometer dari Stasiun Pasar Minggu itu selalu dipenuhi kendaraan yang mengantre memanjang hingga jauh. Saat antre, ruas jalan hanya bisa menampung satu unit mobil berukuran sedang dan satu unit sepeda motor.

Kebiasaan pengendara sepeda motor, yang tak ingin berbaris di dalam antrean panjang dibarengi egoisme untuk selalu berada di depan, mendorong para pengendara untuk menggunakan jalur kendaraan dari arah berlawanan saat pintu kereta ditutup.

Ini bukan kejadian satu dua kali. Pemandangan tersebut jamak terlihat saban hari sehingga bisa dikategorikan sebagai kebiasaan buruk pesepeda motor. Saking biasanya, saat pintu pelintasan dalam keadaan terbuka pun masih banyak pesepeda motor yang memilih menggunakan jalur berlawanan arah. Pembatas jalur yang sudah lama dibangun sepanjang sekitar 1 km seakan tak berarti karena sejauh itu pula para pesepeda motor akan bermanuver melawan arus.

Saat pintu kereta dibuka, pemandangan hiruk pikuk kendaraan yang berebut melintas menjadi pemandangan panjang. Belum lagi silih berganti bunyi klakson panjang dari mereka yang hendak melintas. Yang menjadi korban biasanya kendaraan yang melintas dari arah Pasar Minggu menuju Kalibata. Selain kondisi lalu lintas yang tak beraturan, laju mereka pasti terhambat lantaran jalur mereka telah terisi pula oleh antrean sepeda motor.

Akibatnya sudah tersaji tadi malam. Sekitar pukul 18.30 WIB, sebuah taksi Ekspress tertabrak KRL yang melintas dari arah Bogor akibat tertahan kemacetan di depannya. Dua kendaraan lain yang berada di depan taksi, Daihatsu Ceria dan sebuah sepeda motor, ikut menjadi korban dalam kecelakaan tersebut. Farida Rohderni Purba (40), penumpang taksi tersebut, tewas seketika secara mengenaskan. Sementara itu, baik taksi berwarna putih maupun Daihatsu Ceria langsung ringsek tak beraturan.

Semuanya tak lepas dari peran rombongan pesepeda motor yang menghambat laju kendaraan tersebut melintasi rel kereta. Bahkan, ketika terjadi antrean kendaraan saat proses evakuasi korban, sejumlah pesepeda motor tanpa rasa bersalah masih saja nekat melawan arus.

"Sudah sering kali kami mengadakan operasi dengan target pesepeda motor yang melawan arah. Tapi tetap saja tidak ada kesadaran dari mereka. Peristiwa ini seharusnya membuat mereka sadar, akibat pelanggaran mereka bisa orang lain bisa celaka," kata Kasat Lantas Polres Metro Jaksel Komisaris Sungkono saat dihubungi Kompas.com.

Sungkono tak henti-hentinya mengingatkan agar pesepeda motor lebih tertib dan mengikuti aturan berkendaraan. Egoisme mereka mungkin tidak membawa petaka pada mereka. Namun, kebiasaan buruk mereka bisa berakibal fatal bagi pengguna jalan lainnya.

"Mungkin pak polisi harus bersembunyi di belakang tiap listrik itu. Terus, semua sepeda motor yang lawan arah langsung ditilang saja. Sudah keterlaluan soalnya," kata seorang ibu yang kesal saat menyaksikan evakuasi korban kecelakaan itu.

Bisa jadi para pengendara nakal itu memerlukan penindakan yang lebih tegas dari polisi. Perlukah tilang di tempat tanpa kompromi untuk pelanggaran yang bisa berakibat fatal seperti itu untuk menghilangkan kebiasaan buruk dan egoisme pesepeda motor? "Harus begitu," jawab Sungkono singkat.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau