Meski Ujian di Pelataran, Mereka Tetap Semangat...

Kompas.com - 10/05/2012, 07:08 WIB

Semangat yang tinggi untuk lulus ujian nasional terpancar di raut muka sepuluh siswa kelas VI Sekolah Dasar Negeri Pakis 03 di Desa Pakis, Kecamatan Panti, Jember, Jawa Timur, Selasa (8/5). Meski harus mengikuti ujian nasional di pelataran rumah milik warga setempat, anak-anak tersebut tidak merasa malu.

Hari itu, peserta UN yang juga anak dari buruh kebun di Afdeling Kahendran, mengikuti lembaran ujian di pelataran rumah milik Ny Sunib yang berada di lokasi perkebunan tersebut. Mereka bertekad tidak ingin menjadi anak terbelakang dan selamanya kerja di kebun seperti orangtua mereka.

”Saya harus lulus agar melanjutkan SMP di Panti,” kata Puri Welas Ati, salah satu siswa yang tengah mengikuti UN, seraya melihat soal UN dan lembar jawaban bidang mata pelajaran Matematika.

Hal senada juga disampaikan sang ketua kelas, Imam Suyuti, yang juga ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

Saat jarum jam menunjukkan pukul 09.30, seluruh siswa peserta UN memberi isyarat kepada pengawas bahwa mereka telah merampungkan 40 soal UN. Namun, Rokip, sang pengawas ujian dari SDN Pakis 1, menginformasikan bahwa masih ada waktu 30 menit lagi. ”Silakan koreksi lagi pada lembar jawaban mumpung masih ada waktu 30 menit untuk memperbaiki jawaban,” ujar Rokip, sabar dan tegas.

Para siswa tersebut terpaksa mengikuti UN di pelataran rumah warga di kompleks perkebunan itu karena gedung sekolah mereka rusak diterpa angin puting beliung pada akhir Januari 2012.

SDN Pakis 3 berada di perkebunan Afdeling Kahendran yang dihuni 44 keluarga. Sekolah ini memiliki 51 siswa, terdiri dari kelas I (7 orang), kelas II (7), kelas III (11), kelas IV (8), kelas V (7), dan kelas VI (10).

Untuk kegiatan belajar mengajar, sekolah ini hanya memiliki tiga ruang kelas, yang semuanya rusak diterjang angin puting beliung. Karena sekolah rusak, para siswa terpaksa belajar di tempat lain. Kelas I dan VI belajar di mess karyawan perkebunan. Kelas II hingga kelas V belajar di sebuah surau.

SD kecil ini memiliki tiga guru pegawai negeri sipil dan tiga guru sukarelawan. Para guru yang mengajar di sekolah itu pun harus tinggal di desa yang berdekatan dengan perkebunan itu. Untuk menuju ke sekolah, mereka harus menempuh perjalanan sekitar 15-30 menit menggunakan sepeda motor. Jalan ke kebun ini selain berlumpur juga penuh bebatuan.

”Jika musim hujan, kendaraan dititipkan di rumah orang. Kemudian kami jalan kaki sepanjang sekitar 2 kilometer,” kata Mashuri, guru kelas VI SDN Pakis 3.

Mashuri memilih tinggal di desa tetangga yang mudah dijangkau dengan transportasi sehingga bisa menuju ke sekolah tersebut.

Selama pelaksanaan UN, Mashuri terpaksa bermalam di kebun untuk waktu tiga hari. Kendati berada di daerah terpencil, Mashuri tetap mendorong murid-muridnya untuk berprestasi. Tahun ini, ia bahkan ingin mengulang keberhasilan UN tahun 2010, saat itu SDN Pakis 3 sebagai juara pertama UN tingkat kecamatan.

”Waktu itu, nilai rata-rata siswa 7,75. Prestasi itu diraih dengan cara mengasramakan siswa selama tiga bulan. Setiap malam mereka mendapat bimbingan belajar dari kami,” kata Mashuri, yang sudah 8 tahun mengajar di SD tersebut.

Estafet

Semangat untuk menyukseskan pelaksanaan UN juga ditunjukkan para guru di Desa Mulyorejo, Kecamatan Silo, Jember. Agar UN bisa berlangsung tepat waktu, soal dan lembar jawaban dibawa secara estafet. Hal ini dilakukan karena jarak beberapa sekolah dengan Polsek Sempolan, tempat menyimpan soal dan lembar jawaban, 48 kilometer dan melintasi jalan kebun yang berbatuan.

Karena dirasakan tidak efektif, pada hari berikut, seorang kepala sekolah ditugasi mengambil soal UN untuk lima SD. Ia harus berangkat ke Polsek Sempolan sekitar pukul 04.30. Setelah mendapat soal, dia pulang dengan pengawalan pengawas dan polisi hingga sampai di tempat. Semua ini mereka lakukan demi UN.

(Syamsul Hadi)

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau