Berhenti Merokok Alangkah Sulitnya

Kompas.com - 12/05/2012, 14:03 WIB

KOMPAS.com - Awalnya merokok hanya untuk iseng, lama-lama ketagihan dan sulit melepaskan kebiasaan buruk ini. Kebanyakan gagal pada upaya pertama mereka untuk berhenti merokok. Banyak alasan untuk tidak berhenti merokok, mulai dari takut gemuk sampai sulit berkonsentrasi bila asap rokok tak ngebul.

The American Cancer Society, menyebutkan sekitar 70 persen perokok ingin berhenti, dan sekitar 40 persen telah melakukan berbagai usaha untuk berhenti merokok setiap tahun. Mengapa begitu sulit untuk berhenti merokok? Jawaban singkatnya adalah nikotin.

Sepak terjang nikotin dalam tubuh sebenarnya sudah sering diulas dalam berbagai artikel kesehatan. Selain menyebabkan kecanduan , nikotin juga memberikan perasaan menyenangkan. Saat rokok dihisap Anda sudah menghirup nikotin yang terkandung di dalam asap dan kemudian memasuki tubuh Anda. Nikotin mengganggu komunikasi antar sel saraf, sehingga membuat perasaan Anda seolah-olah rileks, nyaman, dan membuat Anda memiliki keinginan untuk kembali merokok.

Ketika Anda terus merokok, tubuh beradaptasi dan menjadi toleran terhadap nikotin. Anda harus merokok lebih banyak untuk mencapai perasaan menyenangkan yang sama. Karena tubuh Anda memetabolisme nikotin dengan cepat, tingkat nikotin dalam darah Anda turun dalam beberapa jam dan Anda menemukan diri Anda perlu untuk merokok berulang kali sepanjang hari untuk me-refresh efek obat.

Pada titik tertentu, kandungan nikotin akan terakumulasi di sistem tubuh Anda yang memungkin Anda terus membutuhkan sejumlah rokok setiap hari untuk menjaga tingkat nikotin tetap stabil.

Kekuatan Nikotin

Seseorang dapat menjadi tergantung secara fisik terhadap nikotin setelah hanya beberapa minggu mencoba merokok secara teratur. Ketika Anda mencoba untuk berhenti, tubuh akan kembali meminta nikotin. Sistem tubuh seseorang akan bereaksi terhadap tidak adanya nikotin dengan gejala seperti:

* Mudah marah dan tidak sabar
* Gelisah
* Depresi
* Sakit kepala
* Kelelahan
* Sulit tidur
* Kesulitan berkonsentrasi
* Peningkatan nafsu makan
* Penurunan denyut jantung

Mengalahkan Kecanduan Nikotin

Jika kecanduan fisik menjadi satu-satunya masalah, mungkin akan lebih mudah untuk seseorang berhenti merokok dan lebih banyak orang akan berhasil. Tapi masalahnya, para perokok harus berurusan dengan kecanduan psikologis serta ketergantungan fisik dari nikotin. Sekalipun orang berhasil menggunakan alat bantu untuk berhenti, namun gejala kecanduan fisik makan memengaruhi perasaan Anda.

Perasaan ini diperparah dengan meningkatnya kecanduan secara psikologis yang terus menerus terbangun dari waktu ke waktu. Ada beberapa kegiatan yang dapat memicu keinginan seseorang untuk merokok, seperti:

* Berbicara di telepon atau mungkin hanya sekedar mendengar telepon berdering
* Selesai makan
* Minum secangkir kopi atau minuman beralkohol
* Berkendara
* Melihat orang lain menyalakan rokok
* Menonton televisi atau bersantai di sekitar rumah

Anda mungkin juga menemukan keinginan untuk merokok dipicu oleh keadaan emosional negatif yang sebelumnya kerap diatasi dengan penggunaan nikotin, termasuk:

* Kesedihan atau kekecewaan
* Kemarahan, frustrasi, atau kebencian
* Kecemasan atau stres
* Depresi
* Malu
* Ketakutan atau rasa takut
* Kebosanan atau kesepian

Walaupun nikotin bersifat adiktif, tetapi ia bisa dikalahkan. Diperlukan kemauan, niat dan kesadaran yang besar dari dalam hati untuk benar-benar dapat menghentikan kebiasaan buruk merokok. Menghentikan kebiasaan yang sudah bertahun-tahun memang tak mudah membalikkan telapak tangan. Mulailah secara bertahap. Cintailah tubuh Anda dan keluarga dengan mulai berhenti merokok dari sekarang.

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau