Suplai NATO Masih Dihambat

Kompas.com - 15/05/2012, 03:56 WIB

Islamabad, Senin - Suplai logistik aliansi NATO untuk perang melawan Taliban di Afganistan masih terhambat setelah Pakistan menutup semua jalur menuju negara tetangganya itu. AS, pemimpin aliansi, berharap Islamabad segera membuka lagi jalur suplai yang ditutup sejak enam bulan lalu.

Para pejabat AS mengatakan, Washington terus melakukan negosiasi intensif dengan Islamabad agar membuka lagi jalur suplai logistik di perbatasan, Senin (14/5). Jalur distribusi atau suplai logistik perang NATO di Afganistan telah ditutup oleh Pakistan sejak akhir November 2011.

Semula Pakistan menutup hanya jalur laut, tapi akhirnya jalur darat dan udara pun ditutup. Penutupan itu sebagai balasan atas serangan udara AS yang menewaskan 24 tentara Pakistan di dekat perbatasan Afganistan. Akibat penutupan jalur suplai itu, pasokan logistik NATO pun terhambat.

AS telah menyampaikan ucapan belasungkawa ke Pakistan, tetapi Islamabad merasa itu belum cukup. Kini, menjelang Konferensi Tingkat Tinggi NATO yang akan digelar di Chicago, AS, 20-21 Mei, AS kembali mendesak Pakistan untuk membuka lagi jalur suplai itu.

Fokus bahasan KTT NATO kali ini tetap pada perang Afganistan. Pakistan, yang selama ini menjadi sekutu NATO dalam memerangi Taliban, akan diundang menghadiri pertemuan tingkat tinggi itu jika bersedia membuka lagi jalur suplai NATO.

Sebuah tim perunding AS sudah berada di Pakistan selama beberapa minggu untuk mencoba membujuk otoritas Pakistan agar membuka kembali jalur suplai. Kedua belah pihak telah melakukan dialog yang intensif sepanjang Minggu.

Dalam jumpa pers di Islamabad, Senin, Menteri Luar Negeri Pakistan Hina Rabbani Khar mengindikasikan jalur suplai itu sudah saatnya dibuka. ”Sudah saatnya kita melangkah ke depan,” tutur Khar.

Namun, belum ada keputusan resmi untuk membuka lagi jalur suplai tersebut. Pemerintah Pakistan sebelumnya berusaha melempar persoalan ini ke parlemen. Namun, parlemen kemudian justru menggunakan kesempatan ini untuk menegosiasikan ulang hubungan Pakistan-AS dan mengajukan tuntutan yang lebih keras.

Parlemen Pakistan menuntut AS meminta maaf tanpa syarat dan menghentikan semua operasi pesawat tempur tak berawak (drone) di negara itu.

Tekanan kuat

Baik parlemen maupun Pemerintah Pakistan memang menghadapi tekanan kuat terkait persoalan ini.

Pertengahan Maret, kelompok milisi Tehrik-e-Taliban mengaku akan menjadikan anggota parlemen Pakistan sebagai sasaran serangan apabila mereka menyetujui pembukaan kembali jalur suplai ke Afganistan. Sejak akhir Maret sampai awal April, aksi unjuk rasa warga Pakistan yang menentang rencana pembukaan kembali jalur suplai itu juga marak di Islamabad.

Ancaman tersebut dinilai mempersulit usaha Pakistan yang sedang berusaha memperbaiki hubungan dengan AS, yang telah menggelontorkan bantuan hingga miliaran dollar AS ke negara itu.

Hubungan AS-Pakistan saat ini berada dalam titik yang labil. Para analis berspekulasi, pemerintahan Presiden Barack Obama enggan meminta maaf kepada Pakistan karena kritik tajam dari Kongres dan kubu Partai Republik. (AP/AFP/CAL)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau