Para pejabat AS mengatakan, Washington terus melakukan negosiasi intensif dengan Islamabad agar membuka lagi jalur suplai logistik di perbatasan, Senin (14/5). Jalur distribusi atau suplai logistik perang NATO di Afganistan telah ditutup oleh Pakistan sejak akhir November 2011.
Semula Pakistan menutup hanya jalur laut, tapi akhirnya jalur darat dan udara pun ditutup. Penutupan itu sebagai balasan atas serangan udara AS yang menewaskan 24 tentara Pakistan di dekat perbatasan Afganistan. Akibat penutupan jalur suplai itu, pasokan logistik NATO pun terhambat.
AS telah menyampaikan ucapan belasungkawa ke Pakistan, tetapi Islamabad merasa itu belum cukup. Kini, menjelang Konferensi Tingkat Tinggi NATO yang akan digelar di Chicago, AS, 20-21 Mei, AS kembali mendesak Pakistan untuk membuka lagi jalur suplai itu.
Fokus bahasan KTT NATO kali ini tetap pada perang Afganistan. Pakistan, yang selama ini menjadi sekutu NATO dalam memerangi Taliban, akan diundang menghadiri pertemuan tingkat tinggi itu jika bersedia membuka lagi jalur suplai NATO.
Sebuah tim perunding AS sudah berada di Pakistan selama beberapa minggu untuk mencoba membujuk otoritas Pakistan agar membuka kembali jalur suplai. Kedua belah pihak telah melakukan dialog yang intensif sepanjang Minggu.
Dalam jumpa pers di Islamabad, Senin, Menteri Luar Negeri Pakistan Hina Rabbani Khar mengindikasikan jalur suplai itu sudah saatnya dibuka. ”Sudah saatnya kita melangkah ke depan,” tutur Khar.
Namun, belum ada keputusan resmi untuk membuka lagi jalur suplai tersebut. Pemerintah Pakistan sebelumnya berusaha melempar persoalan ini ke parlemen. Namun, parlemen kemudian justru menggunakan kesempatan ini untuk menegosiasikan ulang hubungan Pakistan-AS dan mengajukan tuntutan yang lebih keras.
Parlemen Pakistan menuntut AS meminta maaf tanpa syarat dan menghentikan semua operasi pesawat tempur tak berawak (drone) di negara itu.
Baik parlemen maupun Pemerintah Pakistan memang menghadapi tekanan kuat terkait persoalan ini.
Pertengahan Maret, kelompok milisi Tehrik-e-Taliban mengaku akan menjadikan anggota parlemen Pakistan sebagai sasaran serangan apabila mereka menyetujui pembukaan kembali jalur suplai ke Afganistan. Sejak akhir Maret sampai awal April, aksi unjuk rasa warga Pakistan yang menentang rencana pembukaan kembali jalur suplai itu juga marak di Islamabad.
Ancaman tersebut dinilai mempersulit usaha Pakistan yang sedang berusaha memperbaiki hubungan dengan AS, yang telah menggelontorkan bantuan hingga miliaran dollar AS ke negara itu.
Hubungan AS-Pakistan saat ini berada dalam titik yang labil. Para analis berspekulasi, pemerintahan Presiden Barack Obama enggan meminta maaf kepada Pakistan karena kritik tajam dari Kongres dan kubu Partai Republik.