Mendagri: Langkah Baik, Konser Lady Gaga Dilarang

Kompas.com - 15/05/2012, 13:09 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi menilai, keputusan Polda Metro Jaya tak tidak memberikan rekomendasi atas konser Lady Gaga yang rencananya digelar pada 3 Juni 2012 adalah langkah yang baik.

Gamawan mengaku telah mengetahui langkah Polda dari media massa. "Kita harus melindungi segenap bangsa Indonesia. Untuk mencegah itu, (Polda) mengambil tindakan-tindakan, daripada banyak mudharatnya," kata Gamawan di halaman Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (15/5/2012).

Secara terpisah, Kepala Polri Jenderal Timur Pradopo mengatakan, Polda Metro Jaya telah melakukan kajian sebelum memutuskan untuk tidak memberikan rekomendasi. "Semua berangkat dari evaluasi yang ada," kata Kapolri singkat.

Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Rikwanto mengatakan, banyak pihak memberikan masukan agar melarang konser itu karena penampilan Lady Gaga dinilai tidak sesuai dengan budaya dan moral bangsa Indonesia.

"Saya pastikan, Polda Metro Jaya tidak akan memberikan rekomendasi atas konser Lady Gaga. Penyelenggaranya pun tidak mengajukan surat permohonan izin keramaian kepada kami," kata Rikwanto, Senin (14/5/2012).

Berdasarkan kajian Polda Metro Jaya, menurut Rikwanto, penampilan Lady Gaga dalam konser-konser sebelumnya memperlihatkan aurat dan gerakan-gerakan erotis yang cenderung menampilkan pornoaksi. Hal itu bertentangan dengan moral dan budaya bangsa Indonesia.

Disinggung kemungkinan panitia penyelenggara, yakni PT Prima Java Kreasi (Big Daddy Entertainment), mengajukan permohonan ke Mabes Polri, Rikwanto mengatakan, "Sepengetahuannya di Mabes Polri pun tidak ada pengajuan surat permohonan dari panitia konser Lady Gaga."

Ditanya lagi bagaimana sikap Polda Metro Jaya jika PT Prima Java Kreasi kemudian mengajukan surat permohonan izin keramaian konser Lady Gaga ke Mabes Polri dan izin dikeluarkan Mabes Polri, Rikwanto menegaskan, "Silakan saja jika Mabes Polri mau mengamankan pertunjukan itu. Yang pasti, Polda Metro Jaya tidak akan memberikan rekomendasi."

Presiden Direktur PT Prima Java Kreasi, Michael Rusli, yang dihubungi Kompas.com kemarin petang tidak menjawab panggilan telepon. Pesan singkat yang dikirim ke nomor telepon selulernya, berisi permintaan tanggapan sehubungan dengan Polda Metro Jaya tidak akan memberikan rekomendasi atas konser Lady Gaga, sampai pukul 21.00 tidak dijawabnya.

Arif Ramadoni dari bagian Humas PT Prima Java Kreasi yang ditanya hal yang sama hanya mengatakan minta maaf belum dapat memberikan jawaban atau penjelasan. Alasannya, ia belum mendapat pengarahan resmi dari pihak manajemen. "Jika, sudah ada pengarahan resmi, baru kami akan memberikan penjelasan," katanya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau