Mahasiwa UGM Ciptakan Es Biji Mangga Kaya Antioksidan

Kompas.com - 15/05/2012, 14:49 WIB

YOGYAKARTA, KOMPAS.com - Biji mangga, orang Jawa menyebutnya pelok, merupakan limbah yang hingga kini belum dimanfaatkan. Di Indonesia, pelok sangat melimpah, setidaknya 1 juta ton dihasilkan setiap tahunnya. Di tangan anak-anak muda kreatif dari Universitas Gadjah Mada (UGM), limbah buah mangga ini dapat diolah menjadi produk pangan yang sehat dan bernilai ekonomis.

Mereka adalah Fajri Harum Rahmawati (Teknologi Industri Pertanian/2008), Ika Kartikawati (Teknik Industri/2010), M. Irfan Anshory (Teknik Mesi/2008), dan Titin Haryanti (Budidaya Hutan/2008). Keempat mahasiswa itu berhasil mengolah limbah buah mangga tersebut menjadi es sumsum limbah pelok mangga tuo atau Es Sumanto.

Fajri Harum mengungkapkan, limbah pelok selama ini belum dimanfaatkan. Padahal, di Indonesia pelok mangga sangat melimpah yaitu 1 juta ton per tahun. Dan yang bisa dimanfaatkan setidaknya terdapat sekitar 200 ribu ton per tahun.

"Selama ini, belum ada yang memanfaatkan ataupun mencoba mengolahnya. Padahal pelok kaya vitamin C, juga mengandung senyawa tannin dan flavonoid yang merupakan anti oksidan sebesar 18 persen, kaya serat dan rendah lemak, " kata Fajri, Selasa (15/5/2012).

Dengan mendapatkan dana hibah sebesar Rp. 5 juta dari Dikti melalui program kreativitas mahasiswa bidang kewirausahaan (PKM-K) keempat mahasiswa tersebut bergerak mengolah limbah pelok mangga menjadi Es Sumanto.  Fajri menambahkan, untuk bisa dinikmati menjadi Es Sumanto, pelok mangga dibuat menjadi tepung terlebih dahulu. Langkahnya, pelok dikupas dan dibersihkan kemudian diiris tipis-tipis dan diblender.

Hasil blenderan tersebut diekstrak untuk memisahkan padatan pelok yang masih kasar dengan yang sudah halus. Berikutnya, lanjut Fajri, padatan pelok halus yang masih tercampur dengan air diambil dan diendapkan sekitar setengah hari. Setelah mengendap air dibuang, sementara padatan pelok halus dikeringkan langsung di bawah sinar matahari selama 1 hari. Usai dikeringkan, hasilnya dihaluskan sehingga diperoleh tepung pelok mangga sebagai bahan untuk membuat bubur sumsum.

"Dari 1 kilogram pelok mangga bisa diperoleh sekitar ¼ kilo tepung pelok mangga. Tepung pelok mangga ini dicampur dengan tepung beras, santan, gula, dan air kemudian dimasak hingga mengental menjadi bubur sumsum," kata Fajri.

Disebutkan Fajri, untuk membuat 1 adonan bubur sumsum ini membutuhkan 3 sendok makan tepung pelok mangga, 3 sendok makan tepung beras, 500 ml air, serta santan dan gula pasir secukupnya. Dari adonan tersebut bisa dihasilkan 3 hingga 4 cup es Sumanto ukuran 200 gram.

"Agar lebih nikmat, kita tambahka sirup ke dalam es Sumanto ini. Untuk sementara ini varian rasa sirup yang ditawarkan adalah rasa buah kawista, Coco Pandan, Jeruk, dan Mangga. Untuk 1 cup kami jual Rp 4000,-," pungkas Fajri.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau