Hollande Janjikan Jalan Baru

Kompas.com - 16/05/2012, 02:42 WIB

Paris, Selasa - Francois Hollande resmi dilantik sebagai Presiden Perancis dalam upacara singkat dan sederhana, di Paris, Selasa (15/5). Cuaca Paris yang muram tersaput mendung tebal dan kemudian diguyur hujan saat Hollande diarak dalam mobil terbuka, seolah menandakan masa-masa sulit yang menantinya di depan.

Hollande tiba di Istana Elysee, Paris, Selasa pagi, dan langsung disambut Presiden Nicolas Sarkozy. Mereka kemudian bertemu secara tertutup selama sekitar 40 menit untuk serah terima berbagai dokumen rahasia Perancis, termasuk kode peluncuran senjata-senjata nuklir negara itu.

Politisi berusia 57 tahun itu kemudian dilantik beberapa saat menjelang pukul 11.00 waktu setempat, dalam upacara yang hanya dihadiri sekitar 400 orang. Hollande pun resmi menjabat Presiden Perancis, dan menjadi Presiden pertama dari Partai Sosialis setelah Francois Mitterrand.

Sesuai permintaannya sendiri, upacara pelantikan Hollande berlangsung sangat sederhana untuk ukuran negara sepenting Perancis. Ia hanya mengundang sekitar 40 relasi pribadi, termasuk pasangannya, wartawati Valerie Trierweiler. Anak-anak Hollande dan Trierweiler tidak menghadiri upacara pelantikan.

Dalam pidato pelantikannya, Hollande berjanji akan menjalankan pemerintahan dengan ”sederhana dan bermartabat”, sesuatu yang di era Sarkozy kadang tidak terjadi.

”Saya akan menetapkan berbagai prioritas, tetapi saya tidak akan membuat semua keputusan tentang segala hal sendirian,” ujar Hollande.

Ia juga berjanji membuat jalan baru bagi Eropa untuk keluar dari krisis, jalan yang tak melibatkan langkah penghematan berlebihan. ”Eropa butuh rencana-rencana. Eropa butuh solidaritas dan pertumbuhan,” ujar dia.

Tak mudah

Namun, langkah Hollande diperkirakan tak akan mudah. Di dalam negeri ia dihadapkan pada utang negara yang sangat besar, pertumbuhan ekonomi yang lemah, pengangguran tinggi, dan daya saing yang terus menurun.

Di forum Eropa, pertama-tama ia harus berhadapan dengan Kanselir Jerman Angela Merkel, yang bersama Sarkozy merancang pakta pengetatan anggaran Uni Eropa. Merkel telah menegaskan pakta itu tak bisa dinegosiasikan ulang.

Beberapa pengamat menduga Hollande terlalu lembek untuk membuat berbagai perubahan besar. Ia diduga akan kembali ke kebiasaan lamanya, yakni berkompromi dengan semua orang.

Sesuai tradisi, Hollande kemudian diarak dengan mobil khusus beratap terbuka di sepanjang Champs-Elysee menuju monumen Arc de Triomphe. Saat itulah hujan mulai turun. Tak lama, presiden baru Perancis itu basah kuyup. (AP/AFP/Reuters/DHF)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau