Pilkada dki

Ahok: Tata Kota Jakarta Tidak Manusiawi

Kompas.com - 16/05/2012, 15:59 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Calon wakil gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahja Purnama (Ahok) menilai, tata kota Jakarta saat ini hanya ingin terlihat modern tapi tidak manusiawi dan tidak tertata rapi. Hal tersebut disampaikan Ahok seusai acara silaturahmi pasangan Cagub-Cawagub dengan KPU Provinsi DKI Jakarta, Panwaslu, dan Kapolda Metro Jaya di Mainhall Mapolda Metro Jaya, Rabu (16/5/2012).

"Makanya kami mau perbaiki, supaya modern, tertata rapi dan manusiawi," katanya.

Jika terpilih, Ahok yang mendampingi calon gubernur Joko Widodo mengatakan, akan membuat Superblok untuk memaksimalkan fungsi lahan pemda. "Kami akan membuat superblok-superblok di tengah kota. Jadi, kota ini bukan untuk orang kaya. Justru orang makin kurang beruntung harus kami pindahkan ke kota," kata Ahok.

Mengenai konsep superblok, Ahok menjelaskan, pihaknya ingin orang tidak banyak bergerak, kendaraan tidak banyak bergerak, di satu tempat, itu konsep superblok. Jadi orang yang kerja, rekreasi, tinggal di satu tempat.

"Kalau kami bangunkan di atas tanah pemda: pasar, puskesmas, ruang serba guna, arena olahraga, dan rumah susun bersubsidi sewa yang tidak ada parkir mobil, dan orang diundi, kalau orang tidak tinggal di situ nomor urutnya pindah ke bawah. Saya yakin yang di luar kota ikut ambil undian di situ, karena hemat ongkos, mungkin Jumat baru pulang," ungkapnya.

Ahok mencontohkan, jika di Bendungan Hilir dibangun superblok di tempat para pedagang kaki lima, orang akan memilih tinggal di situ. Superblok akan mengurangi orang ke Jakarta naik mobil.

Mengenai daerah kumuh, Ahok mengungkapkan, itu tidak boleh diperjualbelikan untuk dibuat superblok elit lagi. Namun, pihaknya akan membuat superblok untuk masyarakat yang tinggal di daerah kumuh.

Jadi prinsipnya, kata Ahok, Jakarta yang kumuh harus dibereskan semua, tapi orang yang tinggal di daerah kumuh justru tak boleh diusir. Tentang jumlah superblok, Ahok mengatakan, akan membangun di lahan PD Pasar Jaya yang belum dibangun. Ahok berjanji, jika mereka terpilih, mereka akan mengutamakan transparansi anggaran.

"Semua anggaran, sampai baju gubernur, uang minum gubernur kalian tahu semua," katanya.

Pasangan Cagub-Cawagub, Joko Widodo (Jokowi) - Basuki Tjahja Purnana (Ahok) mendapat nomor urut 3 dalam Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) DKI Jakarta yang akan dilaksanakan pada 11 Juli 2012.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau