Industri kecil

Perajin Tahu dan Tempe Kian Tertekan

Kompas.com - 17/05/2012, 22:48 WIB

SLAWI, KOMPAS.com - Sejumlah perajin tahu dan tempe di Kabupaten Tegal dan Kota Tegal, Jawa Tengah, kian tertekan, akibat tingginya harga kedelai.

Sejak April lalu harga kedelai terus naik, dari sekitar Rp 5.300 per kilogram menjadi Rp 6.900. Perajin tidak mampu mengimbangi kenaikan harga kedelai, sehingga sebagian di antaranya terpaksa berhenti untuk sementara waktu.

Ketua Paguyuban Perajin Tahu Berkah Lestari di Kecamatan Adiwerna, Kabupaten Tegal, Samiun, Kamis (17/5/2012)  ini, mengatakan, dari sekita r 300 perajin tahu di wilayahnya, sekitar 20 perajin terpaksa berhenti produksi.

Perajin lainnya masih berproduksi, tetapi secara periodik, misalnya dua hari sekali atau tiga hari sekali. Beberapa perajin bertahan untuk berproduksi setiap hari, dengan risiko menombok. Hal itu terpaksa mereka lakukan, demi mempertahankan tenaga kerja yang sudah ada, agar tidak beralih mencari pekerjaan lain.

Menurut dia, banyaknya perajin tahu yang berhenti berproduksi, akibat tingginya harga kedelai. Idealnya, harga kedelai yang masih terjangkau perajin tahu, maksimal Rp 5.500 per kilogram. 

Samiun sendiri saat ini tetap berproduksi setiap hari, tetapi dengan mengurangi volume produksi. Sebelumnya, ia biasa memproduksi sekitar 1,5 kuintal kedelai per hari, namun saat ini hanya sekitar 75 kilogram hingga 80 kilogram kedelai per hari.

Kedelai diolah menjadi tahu dengan berbagai ukuran, dan dijual dengan harga antara Rp 150 per biji hingga Rp 500 per biji. Meskipun mengurangi volume produksi, ia tetap mempertahankan lima karyawannya, sehingga setiap hari, Samiun harus menombok antara Rp 100.000 hingga Rp 150.000.

"Sekarang yang penting mempertahankan karyawan, sambil berharap harga kedelai kembali turun," ujarnya.

Menurut Samiun, perajin tahu tidak bisa menaikkan harga jual tahu atau memperkecil ukuran tahu, karena akan mendapat penolakan dari konsumen. Rata-rata dari lima kilogram kedelai, hanya dihasilkan sekitar 144 tahu seharga Rp 500 per biji. Tahu yang diproduksi, juga belum tentu semuanya laku di pasaran.

Kesulitan usaha juga dirasakan para perajin tempe Kelurahan Debong Tengah, Kecamatan Tegal Selatan, Kota Tegal. Para perajin tempe di wilayah tersebut terpaksa menambahkan campuran ampas tahu ke dalam adonan kedelai, untuk menekan biaya produksi tempe.

Titin (29), perajin tempe di Kelurahan Debong Tengah, mengatakan, rata-rata setiap hari ia memproduksi sekitar 35 kilogram kedelai. Untuk itu, ia mencampurkan sekitar 15 kilogram ampas tahu, seharga Rp 9.000.

"Kalau tidak dicampur, kami tidak bisa menutup biaya produksi, katanya.

Hal itu terpaksa ia lakukan, karena perajin tempe kesulitan menaikkan harga jual tempe. Meskipun harga kedelai naik, konsumen menolak apabila harga tempe dinaikkan. Sejak belum terjadi kenaikkan harga kedelai hingga saat ini, harga jual tempe hanya Rp 5.000 per kilogram.

Dengan campuran 35 kilogram kedelai dan 15 kilogram ampas tahu, bisa dihasilkan sekitar 70 kilogram tempe, senilai Rp 350.000. Apabila menggunakan kedelai murni, biaya bahan baku kedelai mencapai Rp 345.000, sementara apabila menggunakan campuran ampas tahu, biaya bahan baku hanya sekitar Rp 256.500.

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau