Kabinet Baru Mulai Bekerja

Kompas.com - 18/05/2012, 02:52 WIB

PARIS, Kamis - Kabinet baru Pemerintah Perancis di bawah Presiden Francois Hollande mulai bekerja, Kamis (17/5). Menteri Luar Negeri Laurent Fabius mengatakan prioritas utama pemerintahan baru ini adalah mengurai krisis keuangan di Eropa untuk mewujudkan ”Eropa yang berbeda”.

Kabinet baru tersebut terbentuk hari Rabu (16/5), dengan Jean-Marc Ayrault—anggota parlemen beraliran moderat dari Partai Sosialis—ditunjuk sebagai Perdana Menteri Perancis. Setelah melangsungkan serah terima jabatan dengan para menteri lama di departemen masing-masing, para anggota kabinet baru tersebut dijadwalkan langsung menggelar sidang perdana, Kamis sore.

Menurut Ayrault, kebijakan pertama yang akan ditetapkan pada rapat perdana ini adalah pemotongan gaji presiden dan para menteri sebesar 30 persen. Langkah itu dipandang sebagai langkah simbolis terkait dengan krisis keuangan di Eropa, dan untuk membedakan pemerintahan baru dengan pendahulunya.

Secara kontras pada era sebelumnya, Presiden Nicolas Sarkozy menaikkan gajinya sebesar 170 persen hanya sebulan setelah ia dilantik pada 2007. Gaji Sarkozy waktu itu langsung melejit menjadi 19.000 euro (sekitar Rp 222,5 juta dengan nilai kurs saat ini) per bulan.

Setelah itu, Pemerintah Perancis akan mulai fokus pada tantangan utama, yakni mengurai krisis keuangan Eropa. ”Prioritasnya adalah mengurai kekusutan di Eropa sambil membuat kemajuan di berbagai isu yang mendesak,” ungkap Fabius, mantan perdana menteri di era Presiden Francois Mitterrand, 1984-1986.

Fabius, yang pada 2005 memimpin kampanye menolak Konstitusi Eropa di Perancis, mengaku dia berkomitmen terhadap penyelamatan Eropa. ”Saya orang Eropa, tetapi kita butuh Eropa yang berbeda, yakni Eropa yang lebih fokus pada pertumbuhan lapangan pekerjaan,” ujar Fabius.

Kabinet baru tersebut juga bertekad mewujudkan janji-janji Presiden Hollande semasa kampanye, yakni menggeser fokus penyelesaian krisis keuangan Eropa dari sekadar menerapkan pengetatan anggaran ke mendorong pertumbuhan ekonomi.

Terkait hal tersebut, Menteri Keuangan Pierre Moscovici kembali menegaskan, Perancis tak akan meratifikasi pakta pengetatan anggaran Uni Eropa sebelum pasal-pasal tambahan soal pertumbuhan dimasukkan ke dalam pakta itu.

”Apa yang sudah dikatakan dengan cukup jelas adalah perjanjian itu tak akan diratifikasi dengan kondisi apa adanya seperti sekarang, dan harus dilengkapi dengan bab pertumbuhan, dengan strategi mendorong pertumbuhan,” ujar Moscovici, mantan manajer kampanye Hollande.

Merangkul Jerman

Dalam pertemuan dengan Kanselir Jerman Angela Merkel, beberapa jam setelah ia dilantik, Selasa, Hollande menyatakan pihaknya akan terus bekerja sama dengan Jerman dalam menentukan strategi pertumbuhan ekonomi Eropa.

Sebuah pertemuan informal para pemimpin Eropa pada 23 Mei dan konferensi tingkat tinggi Eropa akhir Juni akan menjadi ajang bagi Perancis dan Jerman untuk memaparkan hasil diskusi mereka. ”Akan sangat penting bagi Jerman dan Perancis memaparkan ide mereka bersama-sama dalam KTT ini, dan kami telah membahas persiapan kami,” imbuh Merkel.

Pertemuan pertama Hollande dan Merkel ini menjadi langkah awal untuk menjembatani perbedaan pandangan kedua pemerintahan dalam mengatasi krisis Eropa. Merkel yakin krisis hanya bisa diatasi dengan disiplin ketat anggaran, sementara Hollande berpendapat perlu ada kebijakan-kebijakan yang mendorong pertumbuhan ekonomi.

Hari Jumat ini, Hollande dan Merkel akan terbang ke Amerika Serikat untuk menghadiri KTT G-8 dan KTT NATO, yang digelar berturut-turut.(AFP/AP/DHF)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau