LONDON, KOMPAS.com - Tak ada yang akan menyangkal jika Frank Lampard adalah motor lini tengah Chelsea. Dan, mungkin sekarang inilah musim terbaik Frankie. Itu yang membuatnya selalu berjalan dengan kepala tegak.
Lampard sudah berusia 33 tahun. Bisa jadi musim ini adalah puncak karier yang harus dituntaskan dengan gelar kampiun Liga Champions. Namanya akan dicatat dalam prasasti sejarah "The Blues" sebagai salah satu pemain yang pertama memboyong trofi itu sepanjang "Kubu Stamford Bridge" berdiri.
Ingat dentuman gol-golnya di Liga Champions yang selalu bersejarah. Ia mencetak gol ke gawang AS Monaco pada semifinal 2004. Berikutnya, Lampard mencatatkan namanya di papan skor di Stamford Bridge dan Camp Nou meski akhirnya "The Blues" dipentalkan Barcelona pada babak eliminasi 2006. Ia juga mengkreasi gol penyama kedudukan ke gawang Manchester United dan menunaikan tugasnya sebagai eksekutor penalti dengan baik. Sayang, Chelsea harus kalah di final dramatis Moskow 2008 menyusul insiden terpelesetnya penalti kapten John Terry.
Bisa dibilang, Lampard selalu berada di garda terdepan saat Chelsea membutuhkan. Kepada Guardian ayah dua anak itu mengungkapkan segalanya tentang kenangan dan harapannya bersama "The Blues" di Liga Champions. Berikut petikannya:
Menurut Anda bagaimana penampilan Chelsea di Liga Champions musim ini?
Setiap langkah Chelsea adalah prestasi yang hebat. Pertandingan melawan Barcelona dan juga saat bangkit kembali saat melawan Napoli. Itulah penampilan terbaik Chelsea.
Bagaimana kalau akhirnya Chelsea kalah dari Bayern Muenchen di final nanti?
Saya tak menyesal. Saya merasa bahagia dan bangga atas segala yang telah saya capai selama berkarier di sini. Saya merasa beruntung berada di klub besar dan telah memenangi berbagai trofi. Tapi, demi melengkapi segalanya, ada baiknya menang (di final Liga Champions). Anda tak bisa menyembunyikan keinginan itu.
Apakah memori buruk di Liga Champions yang lalu membuat Anda kehilangan fokus menghadapi final nanti?
Sedikit. Saya mengingat segala kesuksesan dan kegagalan. Kadang kegagalan itu justru lebih terpatri di ingatan bersama dengan semua kenangan kemenangan. Tapi, Anda harus terus maju ke depan. Saya punya kenangan indah di Moskow, sayang tak bertahan sampai akhir pertandingan.
Tiap tahun kami selalu dibebani pertanyaan yang sama: apakah musim ini akan diinspirasi kegagalan tahun-tahun sebelumnya?
Tiap tahun kami gagal karena kami memang belum tuntas menjawabnya. Dan, kami makin dekat dengan kesuksesan kami.
Sekarang, bagaimana analisis Anda tentang Bayern?
Saya telah melihat permainan Bayern melawan Borussia Dortmund (di final Piala Jerman 2012, Sabtu (12/5/2012)). Luiz Gustavo akan absen namun mereka masih punya Toni Kroos dan Bastian Schweinsteiger, dua gelandang yang fantastis. Saya sudah kehabisan kata-kata memuji mereka. Kroos kadang tiba-tiba maju ke depan dan saya sangat terkesan.
Belum lagi Thomas Mueller yang bermain di belakang striker, permainannya tergantung tim, apakah ingin lebih menyerang atau bertahan. Di situlah arena pertarungan sebenarnya karena Bayern sangat kuat pada lini itu.
Bagaimana perasaan Anda setelah mengalahkan Barcelona?
Kami menikmati ketika mengalahkan yang terbaik karena Barcelona memang tim terbaik dunia saat ini. Bisa juga karena mereka bertahan sebagai tim terbaik untuk waktu yang lama. Kami cukup pandai dan paham, jika kami kalah di final, orang akan melupakan kekalahan kami di semifinal dan perempat final.
Chelsea berada di peringkat keenam Premier League, sementara Bayern adalah runner-up Bundesliga, apakah itu akan jadi hambatan moral tersendiri?
Saya sangat menghormati para pesepak bola Jerman. Saya tumbuh sebagai fans Inggris dan dibuat frustrasi oleh mereka. Anda tahu betapa tangguhnya mereka di situasi tertentu. Saya bermain bersama Michael Ballack secara dekat dan ia adalah satu dari sekian pemain yang mungkin Anda bakal dapat salah paham terhadapnya. Tapi, ia selalu punya tekad baja, percaya diri, dan ingin menang. Itu karakter. Tim asal Jerman yang pernah saya hadapi sepertinya memunyai sifat itu dalam masing-masing pemainnya.
Anda berada di bangku cadangan ketika Chelsea kalah 1-3 di kandang Napoli. Beberapa hari kemudian Andre Villas-Boas diberhentikan. Masa kelam itu akhirnya berakhir bersamaan dengan kebangkitan Anda hingga mencapai puncaknya tiga bulan kemudian.
Sebuah masa yang sulit ketika saya tak bersama tim dan itu membuat saya frustrasi. Saya terduduk beberapa kali dan hanya berada di belakang pemain lain saat di ruang ganti. Tapi, saya berusaha untuk kuat bertahan dan semuanya berubah secara personal tapi itu belum seluruhnya. Jika kami memenangi final, saya mungkin akan dapat menjawabnya dengan lebih baik.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang