KBRI di Madagaskar Gelar Wayang

Kompas.com - 19/05/2012, 00:12 WIB

LONDON, KOMPAS.com--Kedutaan Besar Republik Indonesia di Antananarivo, Madagaskar, menggelar pertunjukan"Wayang Punakawan Nusantara-Madagaskar" (WPNM) dengan cerita "Semar Mengunjungi Kerabat di Madagaskar" di Wisma Indonesia, Madagaskar, pada akhir pekan.

Pagelaran "Wayang Punakawan Nusantara-Madagaskar" (WPNM) merupakan pagelaran perdana yang diselenggarakan di Madagaskar, demikian Pelaksana Fungsi Pensosbud KBRI Antananarivo, Hanggorono Nurcahyo kepada ANTARA London, Rabu.

Hanggrono Nurcahyo menjelaskan pagelaran wayang kreasi Kepala Perwakilan RI/Kuasa Usaha Tetap (KUTAP)Antananarivo, Artanto S. Wargadinata sebagai salah satu langkah pelaksanaan "Total Diplomacy" KBRI Antananarivo khususnya dalam program Trade Tourism Investment and Cultural (TTIC).

Pementasan ini disaksikan sekitar 125 undangan  terdiri atas  masyarakat Indonesia yang bermukim di Madagaskar juga anggota Ikatan Alumni Indonesia(IAI)  yang tergabung dalam Masyarakat Malagasy yang pernah mengikuti pendidikan atau pelatihan di Indonesia, seperti Kerja sama negara berkembang atau KNB, dharmasiswa, Lemhanas dan Sesko TNI.

Pagelaran yang bertema "Semar is Visiting Relatives in Madagascar" atau "Semar dia nitsidika ny rahalaliny eto Madagasikara" itu dilakukan KUTAP RI dibantu sejumlah Staf KBRI Antananarivo selama kurang lebih satu jam yang berhasil memukau penonton.

Pementasan ini dilakukan dengan Bahasa Indonesia yang diselingi bahasa-bahasa lainnya seperti Inggris, Malagasy, Prancis, Arab, Hindi dan Italia serta beberapa dialog dengan bahasa daerah yang banyak bersentuhan dengan kebudayaan dan bahasa Malagasi antara lain Dayak. Manya’an, Banjar, Batak Toba, Palembang,  Jawa  dan Sunda.

Selama pementasan, terdapat sesi khusus dialog interaktif antara wakil hadirin dengan tokoh budayawan, Emha Ainun Najib melalui sambungan jarak jauh tentang hubungan Indonesia-Madagaskar dan prospeknya dilihat dari kacamata budaya sebagaimana yang tergambar dari berbagai karya sastranya.

Dua wakil penonton Romo Bono dan Jenderal Gendarmerie Madagaskar alumni Sesko TNI, Jenderal Rakotomanana ikut memeriahkan suasana pementasan.

Romo Bono saat ini sedang mengadakan penelitian mengikuti  hasil penelitian sarjana Norwegia Otto Christian Dahl, penulis buku Migration from Kalimantan to Madagascar (1991).

Kuasa Usaha Tetap (KUTAP) RI Antananarivo, Artanto S. Wargadinata mengatakan "Soft Power Diplomacy"  yang salah satu bentuknya adalah pagelaran WPNM tersebut, diharapkan mampu menjadi "jembatan" saling pengertian posisi masing-masing pihak, peningkatan kerja sama dalam bidang ekonomi perdagangan dan investasi serta sosial budaya berupa pendidikan dan kerja sama teknik.

Diharapkan menjadi stimulus bagi pengembangan kerja sama bilateral di masa mendatang seperti kajian pembukaan Indonesian Center, Studi Bahasa Indonesia dan atau Bahasa Malagasy, kerja sama bidang kepemudaan dan olah raga, serta kerja sama lingkungan hidup.

Hanggorono Nurcahyo  mengatakan gubungan Indonesia dengan Madagaskar tergolong unik karena adanya hubungan psikologis-historis antara kedua suku bangsa.

Suku terbesar di Madagaskar, yaitu suku Imeria, yang bermukim di wilayah Antananarivo adalah keturunan dari bangsa Polinesia bagian Indonesia yang melakukan migrasi ke Madagaskar pada abad ke-5 Masehi.

Bahasa Madagaskar merupakan salah satu rumpun bahasa Melayu Polinesia, bahkan sangat mirip dengan bahasa suku Manyan salah satu suku dayak di Kalimantan Barat.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau