Dengan dalih itu, empat sepeda motor milik tujuh remaja itu pun dirampas.
Peristiwa itu terjadi pada Sabtu (19/5), pukul 00.30. Saat itu, ketujuh remaja yang terdiri dari Untung (18), Dana (18), Robi (18), Rizki (18), Kristian (16), Yoga (15), dan Ones (16) sedang latihan musik menggunakan gitar dan kendang.
Mulanya, para remaja tanggung yang tinggal di kawasan Tanjung Priok, Jakarta Utara, ini ingin latihan musik di studio daerah Sumur Batu, Cempaka Putih, Jakarta Pusat. Namun, karena sudah banyak kelompok pemusik yang antre latihan di studio itu akhirnya mereka memilih latihan di pinggir jalan.
Kebetulan, menurut Untung, trotoar di depan Gandhi School relatif sepi dan enak untuk latihan musik. Meskipun sepi, di sekitarnya juga terdapat warung-warung tenda yang menjajakan minuman kopi.
Ketujuh remaja itu kemudian memarkir empat sepeda motor di pinggir trotoar tersebut, terdiri dari dua motor Yamaha Jupiter dan dua motor Yamaha Mio. Mereka kemudian berlatih musik.
Namun, baru setengah jam nongkrong di trotoar itu sambil latihan musik, menurut Untung, datang segerombolan pemuda dari seberang jalan. Jumlahnya lebih dari tujuh orang.
Sambil melempari batu ke arah Untung dan teman-temannya, gerombolan pemuda itu juga berteriak dan memaki. Trauma dengan peristiwa penyerangan gerombolan bermotor yang terjadi sebulan lalu, Untung dan beberapa kawannya lari ke arah RS Mitra Kemayoran. Hanya Dana dan Kristian yang masih bertahan karena bingung dengan serangan gerombolan pemuda tersebut.
”Kristian dan Dana malah ditampolin pipinya. Mereka dituduh memalak kawan perempuan gerombolan pemuda itu,” tutur Untung.
Karena tak mengaku dan merasa tidak pernah memalak siapa pun, Dana dan Kristian terus dipukuli wajahnya meski seorang perempuan yang ikut bersama gerombolan itu mengatakan pelaku pemalakan bukan Dana dan Kristian.
Karena kesal, gerombolan pemuda itu kemudian merampas empat sepeda motor milik ketujuh remaja tersebut. Dua motor di antaranya langsung dikemudikan karena kuncinya masih terpasang di lubang kunci kontak, sementara dua motor lainnya diambil dengan cara dituntun.
Sekitar 20 menit kemudian, kata Untung, salah seorang kawannya yang ikut melarikan diri ditelepon Dana. Lewat hubungan telepon itu diberitahukan bahwa keempat sepeda motornya dirampas gerombolan pemuda yang menyerang.
”Saya dan teman-teman yang lari karena ketakutan langsung balik. Sampai di lokasi, kami melihat motor kami sudah raib,” jelas Untung.
Untung kemudian berinisiatif meminta tolong kepada sekuriti Gandhi School agar melaporkan peristiwa perampasan sepeda motor itu ke kepolisian.
”Tidak ada pedagang di lokasi itu yang membantu kami. Semuanya diam. Makanya kami sendiri yang inisiatif lapor ke sekuriti Gandhi School,” tutur Untung.
Sementara, salah seorang teman Untung berjaga di pinggir jalan dan mencegat mobil patroli polisi. Aparat polisi di mobil patroli itu kemudian meminta Untung dan teman-temannya menunjukkan arah gerombolan pemuda yang melarikan sepeda motor mereka.
Berkat kerja sama aparat polisi dan anggota polisi masyarakat di daerah Sumur Batu, empat pemuda yang membawa lari sepeda motor milik para remaja itu berhasil disergap. Keempatnya langsung digelandang ke Polsek Kemayoran bersama empat sepeda motor hasil rampasannya.
Kepala Polsek Kemayoran Komisaris Sudanto mengatakan, salah seorang pemuda yang berhasil ditangkap adalah Michael (22). Keempat pemuda itu kini sedang diperiksa. Hasil pemeriksaan itu akan digunakan untuk memburu dan menangkap pelaku lainnya yang berhasil kabur.
Menurut Sudanto, kawasan Kemayoran di sepanjang Jalan Benyamin Sueb dan sekitarnya cukup rawan terjadi kejahatan. Dia pun mengimbau para remaja agar menghindari kawasan itu.