4 Sepeda Motor Dirampas

Kompas.com - 20/05/2012, 01:53 WIB

Jakarta, Kompas - Lagi asyik latihan band di pinggir jalan, di depan Mahatma Gandhi School, Jalan Angkasa, Kemayoran, Jakarta Pusat, tujuh remaja tanggung ini diserang sekelompok pemuda. Mereka dituduh telah memalak seorang perempuan dari kelompok pemuda tersebut.

Dengan dalih itu, empat sepeda motor milik tujuh remaja itu pun dirampas.

Peristiwa itu terjadi pada Sabtu (19/5), pukul 00.30. Saat itu, ketujuh remaja yang terdiri dari Untung (18), Dana (18), Robi (18), Rizki (18), Kristian (16), Yoga (15), dan Ones (16) sedang latihan musik menggunakan gitar dan kendang.

Mulanya, para remaja tanggung yang tinggal di kawasan Tanjung Priok, Jakarta Utara, ini ingin latihan musik di studio daerah Sumur Batu, Cempaka Putih, Jakarta Pusat. Namun, karena sudah banyak kelompok pemusik yang antre latihan di studio itu akhirnya mereka memilih latihan di pinggir jalan.

Kebetulan, menurut Untung, trotoar di depan Gandhi School relatif sepi dan enak untuk latihan musik. Meskipun sepi, di sekitarnya juga terdapat warung-warung tenda yang menjajakan minuman kopi.

Ketujuh remaja itu kemudian memarkir empat sepeda motor di pinggir trotoar tersebut, terdiri dari dua motor Yamaha Jupiter dan dua motor Yamaha Mio. Mereka kemudian berlatih musik.

Namun, baru setengah jam nongkrong di trotoar itu sambil latihan musik, menurut Untung, datang segerombolan pemuda dari seberang jalan. Jumlahnya lebih dari tujuh orang.

Sambil melempari batu ke arah Untung dan teman-temannya, gerombolan pemuda itu juga berteriak dan memaki. Trauma dengan peristiwa penyerangan gerombolan bermotor yang terjadi sebulan lalu, Untung dan beberapa kawannya lari ke arah RS Mitra Kemayoran. Hanya Dana dan Kristian yang masih bertahan karena bingung dengan serangan gerombolan pemuda tersebut.

”Kristian dan Dana malah ditampolin pipinya. Mereka dituduh memalak kawan perempuan gerombolan pemuda itu,” tutur Untung.

Karena tak mengaku dan merasa tidak pernah memalak siapa pun, Dana dan Kristian terus dipukuli wajahnya meski seorang perempuan yang ikut bersama gerombolan itu mengatakan pelaku pemalakan bukan Dana dan Kristian.

Karena kesal, gerombolan pemuda itu kemudian merampas empat sepeda motor milik ketujuh remaja tersebut. Dua motor di antaranya langsung dikemudikan karena kuncinya masih terpasang di lubang kunci kontak, sementara dua motor lainnya diambil dengan cara dituntun.

Sekitar 20 menit kemudian, kata Untung, salah seorang kawannya yang ikut melarikan diri ditelepon Dana. Lewat hubungan telepon itu diberitahukan bahwa keempat sepeda motornya dirampas gerombolan pemuda yang menyerang.

”Saya dan teman-teman yang lari karena ketakutan langsung balik. Sampai di lokasi, kami melihat motor kami sudah raib,” jelas Untung.

Untung kemudian berinisiatif meminta tolong kepada sekuriti Gandhi School agar melaporkan peristiwa perampasan sepeda motor itu ke kepolisian.

”Tidak ada pedagang di lokasi itu yang membantu kami. Semuanya diam. Makanya kami sendiri yang inisiatif lapor ke sekuriti Gandhi School,” tutur Untung.

Sementara, salah seorang teman Untung berjaga di pinggir jalan dan mencegat mobil patroli polisi. Aparat polisi di mobil patroli itu kemudian meminta Untung dan teman-temannya menunjukkan arah gerombolan pemuda yang melarikan sepeda motor mereka.

Berkat kerja sama aparat polisi dan anggota polisi masyarakat di daerah Sumur Batu, empat pemuda yang membawa lari sepeda motor milik para remaja itu berhasil disergap. Keempatnya langsung digelandang ke Polsek Kemayoran bersama empat sepeda motor hasil rampasannya.

Kepala Polsek Kemayoran Komisaris Sudanto mengatakan, salah seorang pemuda yang berhasil ditangkap adalah Michael (22). Keempat pemuda itu kini sedang diperiksa. Hasil pemeriksaan itu akan digunakan untuk memburu dan menangkap pelaku lainnya yang berhasil kabur.

Menurut Sudanto, kawasan Kemayoran di sepanjang Jalan Benyamin Sueb dan sekitarnya cukup rawan terjadi kejahatan. Dia pun mengimbau para remaja agar menghindari kawasan itu.

(MDN)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau