Kolesterol Baik Tak Cegah Sakit Jantung

Kompas.com - 21/05/2012, 08:24 WIB

KOMPAS.com - Banyak tenaga medis beranggapan bahwa meningkatkan kolesterol baik atau HDL dapat melindungi seseorang dari penyakit jantung koroner secara signifikan. Namun, sebuah riset terbaru yang dimuat The Lancet mengungkap hal yang berbeda. Para ahli berpendapat, meningkatkan kadar kolesterol baik (HDL) mungkin tidak memiliki efek pada risiko pencegahan penyakit jantung.

"Sudah menjadi sebuah asumsi bahwa jika seorang pasien atau kelompok pasien melakukan sesuatu yang menyebabkan tingkat HDL mereka naik, maka mereka beranggapan bahwa risiko serangan jantung akan turun," kata peneliti senior, Sekar Kathiresan, dari Harvard Medical School.

Dalam kajiannya, peneliti menggunakan database informasi genetik. Hasil analisa menunjukkan, orang yang secara genetik cenderung memiliki tinggi kadar kolesterol baik (HDL), ternyata memiliki risiko yang sama untuk mengembangkan penyakit jantung dengan mereka yang memiliki kadar kolesterol buruk (LDL).

Peneliti menambahkan, mengingat saat ini belum ada obat yang tersedia di pasaran yang dapat meningkatkan kadar HDL secara khusus, sulit untuk membuktikan bahwa cara ini dapat menurunkan risiko seseorang terkena serangan jantung.

"Ini merupakan temuan yang menarik karena kami telah lama berpendapat bahwa kolesterol HDL menjadi jalan yang benar untuk mencegah risiko penyakit jantung," Dr Nieca Goldberg, seorang ahli jantung dan direktur medis dari Joan Tisch for Women Health di NYU Langone Medical Center.

Goldberg, yang tidak terlibat dalam penelitian mengatakan, perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengingat beberapa temuan studi sebelumnya justru menemukan hasil yang bertentangan.

"Apakah karena tingkat HDL rendah terkait dengan faktor risiko lain seperti obesitas dan trigliserida tinggi?" Kata Goldberg. "Masalah lain (yang diangkat dalam penelitian ini) adalah kita tidak memiliki bukti penelitian lain untuk mendukung pemberian obat dalam meningkatkan kadar kolesterol HDL," tambahnya.

Namun, kata Goldberg, pengobatan saat ini biasanya difokuskan untuk menurunkan kadar kolesterol jahat (LDL) - bukan untuk meningkatkan HDL. Mungkin temuan tersebut hanya memiliki dampak kecil terhadap perawatan pasien.

"Olahraga adalah salah satu cara yang paling alami untuk meningkatkan HDL, dan saya pikir orang harus terus latihan karena jelas ada manfaat tambahan lainnya, seperti menurunkan tekanan darah, menjaga berat badan, dan menjaga arteri (pembuluh darah) lebih elastis dan fleksibel," kata Goldberg.

Goldberg juga merekomendasikan bahwa orang harus fokus pada faktor risiko yang dapat dicegah seperti berhenti merokok, membatasi asupan makanan yang tidak sehat seperti gula dan pati, dan meningkatkan jumlah asupan asam lemak omega-3, dalam rangka mengurangi risiko serangan jantung. Setiap individu diharapkan dapat terus melakukan pemeriksaan rutin dengan dokter mereka untuk memonitor tekanan darah dan tingkat kolesterol.

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau