Bahkan Rapat G-8 Pun Terinterupsi Liga Champions...

Kompas.com - 21/05/2012, 13:14 WIB

MARYLAND, KOMPAS.com — Dalam dua hari, pemimpin negara G-8 itu harusnya fokus membahas pasar minyak global, energi dan iklim, transisi di Timur Tengah dan Afrika Utara. Namun, konferensi tingkat tinggi yang digelar di rumah peristirahatan Presiden Amerika Serikat Barack Obama di Camp David, Maryland, Sabtu (19/5/2012), itu sempat terganggu dengan laga final Liga Champions antara Chelsea dan Bayern Muenchen. Maklum, laga final ini mempertemukan klub raksasa Inggris dan Jerman.

Kanselir Jerman, Angela Merkel, disebut sebagai pemicu "kegilaan" di tengah rapat serius itu. Perhelatan akbar yang digelar di Fussball Arena, atau Allianz Arena, Muenchen, Jerman, itu benar-benar mengganggu perhatian Merkel yang juga seorang penggila bola.

Awalnya, dia menonton pertandingan melalui komputer tablet miliknya. Namun, Merkel meminta agar drama adu penalti disaksikan bersama melalui televisi layar lebar. Obama dan peserta lainnya, seperti Presiden Perancis Francois Hollande, Perdana Menteri Italia Mario Monti, PM Kanada Stephen Harper, dan PM Jepang Yoshihiko Noda pun setuju.

PM Inggris David Cameron mengaku  dia awalnya tak terlalu tertarik untuk mengikuti ide itu karena berpikir bahwa Chelsea akan kalah. Tim sepak bola Jerman memang terkenal dengan kesuksesan di drama adu penalti.

"Namun,  saya kemudian beranjak dan ikut menonton, dan itu sangat menarik. Suatu kehormatan ketika bisa menonton adu penalti dengan Kanselir Jerman dan kemudian Anda menang," katanya, seperti dilansir Daily Mail.

Dalam wawancara dengan BBC, Cameron mengatakan mereka sempat menonton lalu kembali ke dalam ruangan untuk rapat dan membicarakan topik-topik rapat yang sudah dijadwalkan. Baru, ketika mendengar bahwa kemenangan harus ditentukan melalui adu penalti, Cameron pun mengatakan, konsentrasi mereka, terutama dirinya dan Merkel, terganggu.

"Ketika tahu laga berakhir imbang dan harus adu penalti, pertanyaan tim Inggris atau Jerman yang akan menang mengganggu kami," ungkapnya.

Di sela menonton, perdana menteri yang menjabat sejak Mei 2010 itu juga mengatakan bahwa dirinya sempat menjelaskan peraturan tentang adu penalti kepada Obama dan alasan dilakukannya adu penalti. Sebelumnya, Cameron juga mengatakan terlibat diskuisi singkat yang menarik mengenai sepak bola dengan Merkel.

Saat Didier Drogba berhasil mengeksekusi penalti penentu kemenangan Chelsea, pria berusia 45 tahun ini mengatakan dirinya bersorak kegirangan dan menjadi orang yang paling berisik di ruangan itu. Perdana Menteri Rusia Dmitry Medvedev, lanjutnya, juga turut bergembira karena faktor Roman Abramovich, pemilik Chelsea, yang berdarah Rusia.

Setelah itu, Cameron memberikan pelukan penghiburan kepada Merkel yang berada di sebelahnya. Dua foto yang dirilis oleh Gedung Putih menunjukkan momen-momen santai para pemimpin negara-negara besar tersebut di sela rapat serius.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau