Bus mogok akibat masalah teknis seperti yang dialami bus JMT-029 (PGC-Ancol) di Halte Tegalan, Jalan Matraman Raya, Jakarta Timur, Senin siang, amat disesalkan Koordinator Komunitas Suara Tranjakarta David Tjahjana.
Bus bercat abu-abu itu mogok akibat kerusakan pada bagian transmisi. Penumpang dipindahkan ke bus yang ada di belakang bus yang mogok.
Bus B 7044 IX itu mogok pukul 10.00 dan baru bisa dipindahkan tiga jam kemudian.
Selama tiga jam itu, busway di sisi barat Jalan Matraman Raya ditutup. Bus transjakarta Koridor V yang melintasi jalur itu harus memakai satu dari lima lajur Jalan Matraman Raya di sisi barat.
Selain itu, penumpang dari selatan ke utara juga tidak bisa naik dari Halte Slamet Riyadi, Tegalan, dan Matraman I di sepanjang Jalan Matraman Raya. Untuk menuju utara, penumpang harus naik dari Kebon Pala, sebelum Slamet Riyadi, atau Salemba Carolus, setelah Matraman I. Namun, untuk menuju kedua halte itu, penumpang menggunakan angkutan lain.
Jalur menuju selatan atau busway sisi timur, Matraman I, Tegalan, dan Slamet Riyadi masih bisa melayani penumpang.
David menilai, bus mogok akibat kerusakan teknis seharusnya tidak terjadi. ”Katanya sebelum bus diberangkatkan, diperiksa. Namun, kenapa masih terjadi kendala teknis,” katanya.
Bus mogok, lanjut David, jangan dianggap sepele. Masalah itu menggambarkan kualitas pelayanan yang buruk. Apalagi, tidak ada kompensasi untuk penumpang yang sebenarnya jengkel akibat perjalanannya terganggu. ”Ini kan bisa membuat kami kehilangan kepercayaan terhadap transjakarta,” katanya.
Dari kasus itu, menurut David, BLU Transjakarta Busway dan Pemprov DKI Jakarta perlu segera menetapkan standar pelayanan minimal (SPM). Bus transjakarta sudah beroperasi tujuh tahun, tetapi SPM belum ada. ”Padahal itu jelas diperlukan agar petugas di lapangan tahu apa yang harus diperbuat ketika terjadi masalah dan penumpang tahu apa haknya,” katanya.
SPM yang belum ada berpotensi membuat penumpang enggan mengadukan keluhan kepada BLU. Sebab, penumpang tidak yakin keluhan akan ditindaklanjuti dan diatasi.
Juru Bicara BLU Transjakarta Busway Sri Ulina Pinem mengakui, bus mogok mengganggu kelancaran operasional dan membuat penumpang tidak nyaman. Bus belum bisa dipindahkan dari busway selama tiga jam karena menunggu truk derek.
Sri Ulina membantah pernyataan yang mengatakan salah satu sebab bus mogok karena usia kendaraan yang sudah tua sehingga tidak layak. Bus yang mogok itu beroperasi belum tujuh tahun. Peremajaan bus pun telah dilakukan. ”Namun, secara bertahap,” katanya.
Bus mogok memang problem. Namun, survei Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) menunjukkan, sebagian besar penumpang mengeluhkan jadwal kedatangan bus yang tidak pasti dan lamanya waktu menunggu di halte.
Pelayanan bus transjakarta masih belum baik meski angkutan ini sebenarnya diandalkan. Itu bisa dilihat dari penambahan jumlah penumpang dua tahun ini.
Data menunjukkan, sebanyak 86,937 juta penumpang terangkut pada 2010. Jumlah itu naik menjadi 114,783 juta pada 2011. Tahun ini bus transjakarta ditargetkan mampu mengangkut 120 juta orang.
Untuk menambah kapasitas angkut, jumlah bus terus ditambah dan diupayakan berjenis bus gandeng dengan kapasitas dua kali lipat bus biasa. Survei YLKI pada 2011 menunjukkan, penumpang bus transjakarta dulunya pengguna kendaraan pribadi. Bahkan, 40 persen penumpang bus transjakarta diyakini dulunya pengguna sepeda motor.