Presiden Mali Dipukuli Demonstran

Kompas.com - 22/05/2012, 10:17 WIB

BAMAKO, KOMPAS.com — Ribuan demonstran menyerbu kantor Presiden sementara Mali Dioncounda Traore dan menyerangnya di Bamako, Senin (21/5/2012). Traore dilarikan ke rumah sakit terdekat dalam keadaan pingsan.

Dioncounda Traore dirawat di Rumah Sakit Point G karena luka di kepala, kata Sekou Yattara, mahasiswa kedokteran di rumah sakit itu.

Menurut wakil ketua partai pimpinan Traore, Iba N'Diaye, kondisi Traore membaik. "Dia terluka parah, tetapi dari informasi yang saya terima kondisinya baik-baik saja. (Serangan) itu upaya untuk mengancam jiwanya," kata N'Diaye.

Ribuan pengunjuk rasa itu berkumpul di istana kepresidenan di Bamako pada Senin pagi. Mereka marah karena ada kesepakatan di antara para pemimpin negara-negara Afrika yang memperpanjang masa jabatan Traore.

Mereka datang sambil membawa tongkat dan kayu dan memukuli foto-foto Traore. Yang lain merobek fotokopi gambar-gambar presiden sementara itu. Sementara itu kelompok lainnya membawa boneka yang dibungkus kain dan diletakkan di atas dua kayu untuk menggambarkan jenazah Traore.

BBC melaporkan, tentara membiarkan para demonstran itu masuk kantor Traore, yang berdampingan dengan istana presiden.

Sementara itu menurut AP, para demonstran berhasil masuk ke istana setelah para tentara yang bertugas di gerbang kompleks itu melambaikan tangan kepada para demonstran.

"Mereka memukulinya dan merobek-robek pakaiannya," kata juru bicara militer, Bakary Mariko, kepada Reuters.

Menurut Rokia Diabate, wartawan harian lokal Le Pretoire, tentara-tentara itu juga yang menunjukkan ruang kerja Traore. Karena itulah pengunjuk rasa bisa menyerbu kantor itu.

"Saya melihat ada ceceran darah di lorong.... Saya lihat salah satu sepatunya dibawa para demonstran dan seorang demonstran memamerkan dasi yang penuh darah, dan katanya itu dasi Dioncounda Traore," kata Diabate.

Diabate mengatakan, akhirnya perdana menteri untuk pemerintahan sementara itu keluar dan meminta para demonstran memberi jalan agar ambulans bisa masuk dan membawa Traore ke rumah sakit.

Menurut BBC, para demonstran itu merupakan pendukung kudeta Maret lalu. Mereka kesal karena masa jabatan Traore diperpanjang hingga satu tahun.

Seharusnya, mandat untuk Traore berakhir pada Senin (21/5/2012), tetapi mandat itu diperpanjang berdasarkan kesepakatan para pemimpin negara Afrika Barat dengan pemimpin kudeta Kapten Amadou Sanogo.

Kedua pihak sepakat untuk memberi kesempatan Traore memimpin Mali untuk menyiapkan pemilu dan menumpas pemberontakan di utara.

Tak hanya itu, kesepakatan tersebut juga mengakui Kapten Sanogo sebagai mantan presiden dan memberinya gaji tetap serta sebuah rumah.

Meski demikian, Kapten Sanogo tak mengeluarkan pernyataan apa pun dan tidak memerintahkan pendukungnya untuk menghentikan unjuk rasa.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau