Majene

Nikmatnya Ketupat Santan "Kayu Bakar"

Kompas.com - 24/05/2012, 13:37 WIB

MAJENE, KOMPAS.com - Menikmati ketupat wangi lengkap dengan opor ayam terutama saat lebaran mungkin sudah biasa. Tapi menikmati ketupat santan yang disajikan dengan ikan dan telur yang seluruhnya dimasak dengan santan pasti menawarkan sensasi rasa yang berbeda.  Ketupat yang dimasak khusus dengan kayu bakar membuat makanan tradisonal khas Majene ini memang memiliki cita rasa yang istimewa.

Warung ketupat santan satu-satunya milik Munifa di Jalan Abdul Jalil, Lingkungan Binanga, Kelurahan Labuang, Majene, tak pernah sepi pelanggan. Sejak buka mulai pukul 08.00 hingga 22..00 wita, pengunjung datang silih berganti. Mulai berdiri sekitar tahun 1980, warung ini terbukti tak pernah kehilangan pelanggan.

Bahkan pada jam makan siang atau malam hari warung 'kelabakan' melayani pelanggannya. Harganya yang relatif murah pun membuat masakan laris manis. Cukup menyediakan uang Rp 7.000 hingga Rp 10.000 Anda sudah bisa menikmati satu porsi ketupat santan lengkap dengan pilihan lauknya berupa ikan atau telur yang dimasak dengan santan murni.

Ketupat santan racikan Munifa dimasak dengan kayu hingga aromanya terasa begitu khas. Sementara lauk pauknya berupa ikan cakalang atau cepak yang diiris dan telur juga dimasak dengan santan. Ikan misalnya harus digoreng terlebih dahulu sebelum disajikan dengan kuah santan yang tentu saja sudah dicampur dnegan aneka bumbu masak.

Hapid salah satu pelanggan setia ketupat santan di Majene, mengaku jatuh hati dengan masakan ini. Selain harganya yang terjangkau, aroma dan rasanya selalu menggodanya untuk kembali mampir. Tak heran, hampir setiap minggu Hapid menikmati masakan ketupat santan ini. "Ketupat santan yang sudah dikenal puluhan tahun lalu di Majene ini punya rasa yang berbeda. Racikan bumbunya yang pas membuat setiap pelanggann yang mencicipinya jatuh hati dengan masakan ini, termasuk saya sendiri," ujar Hafid.

Warung yang dirintis sejak tahun 1980 sempat nyaris mati ketika orang tua Munifa tak bisa melanjutkan usaha karena usia. Munifayang kemudian melanjutkan usaha orang tuanya. Kini, dalam sehari Munifa bisa menghasilkan omzet hingga jutaan rupiah. "Mereka yang sudah pernah mencicipi ketupat santan Majene pasti tak bisa lupa, karena memnag punya cita rasa tersendiri," ujar Munifa.

Untuk melayani pelanggan, kini Munifa harus merekrut lima tenaga kerja. Belum termasuk tenaga kerja dari anggota keluarga sendiri. Meski pelanggannya terus bertambah dan usahanya makin dikenal luas di Majene, namun Munifa belum berniat membuka cabang di tempat lain. Alasannya, ia ingin mempertahankan aroma dan cita rasa masakan racikannya sendiri.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau