BALIKPAPAN, KOMPAS.com — Ketua Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Balikpapan Wahyullah Bandung mengatakan, Balikpapan tidak punya saluran air utama yang menghubungkan area dari tengah kota menuju laut. Seharusnya, kota ini memiliki sebuah kanal besar.
Padahal, 85 persen wilayah Balikpapan memiliki topografi yang miring sehingga air dalam skala besar mencari jalan keluar dari Kota Balikpapan. "Air bukan menggenang, melainkan mencari jalan keluar ke laut," ujarnya, Kamis (24/5/2012).
Ia mengatakan, tidak fair menimpakan kesalahan kepada pengembang. Pengembang sudah membuat bozem atau kantong air untuk mengalirkan air. Namun, tidak ada saluran besar yang dapat membawa air dari bozem keluar dari Balikpapan. "Ibarat kabel listrik, kalau koneksinya tidak baik, tetap saja tidak akan on," katanya.
Seharusnya dengan kondisi topografi yang tidak banyak berubah sejak 30 tahun lalu, Balikpapan memiliki perencanaan untuk membuat kanal besar sebagai saluran utama air dari kota menuju muara. Dengan kemiringan yang ekstrem, air sudah pasti mengalir deras. Jika saluran yang menampung air tidak besar, maka otomatis air akan meluap. "Kalau perencanaan kita benar, tidak akan terjadi seperti ini. Pertumbuhan masyarakat kita kencang, tidak diimbangi dengan infrastruktur. There is something wrong dengan perencanaan kota," ujarnya.
Longsor di sejumlah kawasan permukiman yang berbukit, kata Wahyullah, seharusnya bisa dihindari dengan memindahkan konsentrasi permukiman ke wilayah yang lebih datar. Sudah saatnya, pemerintah membuat kawasan pengembangan di daerah baru.
"Kalau tidak ada usaha mengajak, ini seperti bom waktu. Kalau lima sampai sepuluh tahun lagi tidak ada perubahan, maka kondisi ini akan terus terjadi, bahkan akan menambah panjang daftar banjir dan longsor di Balikpapan," katanya. (Basir Daud)
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang