Jakarta, Kompas
Pada perdagangan Jumat pekan lalu, Indeks Harga Saham Gabungan ditutup turun 82 poin (-2,06 persen) ke level 3.902,50 dengan jumlah transaksi sebanyak 14,2 juta lot atau setara dengan Rp 4,87 triliun. Pelepasan terjadi dipicu pelemahan nilai tukar rupiah atas dollar AS.
Investor asing melepas saham-saham dengan catatan penjualan bersih senilai Rp 922 miliar lebih. Mereka mencatat penjualan bersih selama 14 hari terakhir dengan tingkat penjualan selama pekan lalu hampir mencapai Rp 4 triliun.
”Yang harus dilihat apakah negara G-8 dan Uni Eropa serius akan atasi masalah Yunani? Atau memelihara masalah Yunani untuk krisis fiskal negara yang lebih maju itu sendiri,” kata pengamat pasar modal, Yanuar Rizky, di Jakarta, Minggu (27/5).
Menurut Yanuar, di pasar keuangan dunia, standar pengawasannya semua sama bahwa ada batas kewajaran kenaikan dan penurunan sebuah indeks. Jika terjadi koreksi besar-besaran dengan pola terjadinya penjualan cukup besar biasanya dipicu kepanikan.
Namun jika tidak ada informasi yang mendukung kepanikan, hal itu bisa diduga merupakan tindakan manipulatif sehingga dapat dilakukan penindakan oleh otoritas.
Dalam jangka menengah-panjang, pendisiplinan pasar keuangan dengan membatasi gerak ambil untung pelaku pasar dan penerapan pajak fiskal adalah dua hal yang paling masuk akal diterapkan untuk menekan spekulasi yang didorong dari eksternal.
Sementara itu, menurut analis Panin Sekuritas, Purwoko Sartono, pelemahan nilai tukar rupiah atas dollar AS ini bukan terjadi di Indonesia saja, melainkan di hampir semua mata uang dunia secara umum sehingga dapat disimpulkan bahwa terjadi
Artinya, pelaku pasar secara umum masih percaya tempat teraman di dunia untuk menyimpan aset adalah Amerika Serikat. Karena itu, mereka berbondong-bondong menarik dananya yang berada di negara non-AS dan menukarkan ke dollar AS.
Mengawali pekan ini, Purwoko melihat indeks memiliki peluang untuk mengalami pembalikan arah alias menguat secara teknikal setelah turun cukup dalam.
Meski demikian, perlu diperhatikan kondisi pasar yang relatif volatil dan penuh tekanan jual masih akan membayangi investor pekan depan. Indeks diproyeksikan akan bergerak pada kisaran level 3.870-3.930.
Dalam pandangan bulanannya, tim riset Mandiri Sekuritas juga melihat pelemahan nilai tukar rupiah atas dollar AS ini bakal menambah ketidakpastian di Bursa Efek Indonesia.
Bayang-bayang jumlah modal asing keluar dari pasar modal nasional pun meningkat. Mandiri Sekuritas mempunyai dua pandangan skenario target IHSG di akhir tahun ini.
Dalam skenario optimistis, indeks bisa ditutup di level 4.600 di akhir tahun. Namun dalam skenario konservatif, indeks hanya akan mencapai level maksimal di level 4.200.