Pasar modal

Pelaku Makin Mainkan Isu Yunani

Kompas.com - 28/05/2012, 02:42 WIB

Jakarta, Kompas - Pelaku pasar, khususnya investor asing, akan terus memainkan isu posisi Yunani di zona euro untuk mencari keuntungan di pasar modal global, termasuk di Indonesia. Kondisi ini mengakibatkan volatilitas di pasar modal nasional tidak terhindarkan dalam jangka pendek.

Pada perdagangan Jumat pekan lalu, Indeks Harga Saham Gabungan ditutup turun 82 poin (-2,06 persen) ke level 3.902,50 dengan jumlah transaksi sebanyak 14,2 juta lot atau setara dengan Rp 4,87 triliun. Pelepasan terjadi dipicu pelemahan nilai tukar rupiah atas dollar AS.

Investor asing melepas saham-saham dengan catatan penjualan bersih senilai Rp 922 miliar lebih. Mereka mencatat penjualan bersih selama 14 hari terakhir dengan tingkat penjualan selama pekan lalu hampir mencapai Rp 4 triliun.

”Yang harus dilihat apakah negara G-8 dan Uni Eropa serius akan atasi masalah Yunani? Atau memelihara masalah Yunani untuk krisis fiskal negara yang lebih maju itu sendiri,” kata pengamat pasar modal, Yanuar Rizky, di Jakarta, Minggu (27/5).

Menurut Yanuar, di pasar keuangan dunia, standar pengawasannya semua sama bahwa ada batas kewajaran kenaikan dan penurunan sebuah indeks. Jika terjadi koreksi besar-besaran dengan pola terjadinya penjualan cukup besar biasanya dipicu kepanikan.

Namun jika tidak ada informasi yang mendukung kepanikan, hal itu bisa diduga merupakan tindakan manipulatif sehingga dapat dilakukan penindakan oleh otoritas.

Dalam jangka menengah-panjang, pendisiplinan pasar keuangan dengan membatasi gerak ambil untung pelaku pasar dan penerapan pajak fiskal adalah dua hal yang paling masuk akal diterapkan untuk menekan spekulasi yang didorong dari eksternal.

Sementara itu, menurut analis Panin Sekuritas, Purwoko Sartono, pelemahan nilai tukar rupiah atas dollar AS ini bukan terjadi di Indonesia saja, melainkan di hampir semua mata uang dunia secara umum sehingga dapat disimpulkan bahwa terjadi flight-to-quality (aksi investor memindahkan portofolionya dari investasi berisiko tinggi ke aset yang lebih aman) yang terjadi ketika ketidakstabilan terjadi.

Artinya, pelaku pasar secara umum masih percaya tempat teraman di dunia untuk menyimpan aset adalah Amerika Serikat. Karena itu, mereka berbondong-bondong menarik dananya yang berada di negara non-AS dan menukarkan ke dollar AS.

Mengawali pekan ini, Purwoko melihat indeks memiliki peluang untuk mengalami pembalikan arah alias menguat secara teknikal setelah turun cukup dalam.

Meski demikian, perlu diperhatikan kondisi pasar yang relatif volatil dan penuh tekanan jual masih akan membayangi investor pekan depan. Indeks diproyeksikan akan bergerak pada kisaran level 3.870-3.930.

Dalam pandangan bulanannya, tim riset Mandiri Sekuritas juga melihat pelemahan nilai tukar rupiah atas dollar AS ini bakal menambah ketidakpastian di Bursa Efek Indonesia.

Bayang-bayang jumlah modal asing keluar dari pasar modal nasional pun meningkat. Mandiri Sekuritas mempunyai dua pandangan skenario target IHSG di akhir tahun ini.

Dalam skenario optimistis, indeks bisa ditutup di level 4.600 di akhir tahun. Namun dalam skenario konservatif, indeks hanya akan mencapai level maksimal di level 4.200. (BEN)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau