Mantan Atlet Prihatin dengan Prestasi Bulu Tangkis Indonesia

Kompas.com - 28/05/2012, 16:21 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Para mantan atlet bulu tangkis prihatin terhadap kekalahan tim Indonesia dalam ajang Piala Thomas dan Uber 2012 di Wuhan, China, pekan lalu. Susy Susanti termasuk satu di antara para mantan jagoan tersebut.

Pebulu tangkis senior itu menyayangkan kekalahan tim Thomas saat bertanding melawan Jepang. "Kami semua sedih dengan kekalahan ini. Dalam sejarah bulu tangkis Indonesia, belum pernah tim Thomas kalah dari Jepang. Mereka memang sudah berusaha maksimal, tapi tidak bisa menembus poin-poin kritis saat pertandingan," kata Susi saat jumpa pers di Hotel Atlet Century, Jakarta, Senin (28/5/2012).

Dengan kekalahan ini, kata Susy, pengurus dan pelatih harus introspeksi diri. Bisa jadi para atlet kurang mendapatkan dukungan saat berlatih. Padahal, menurut dia, selain kesiapan atlet, dukungan dan motivasi dari pelatih dan pengurus juga harus terpenuhi.

"Pemain, pengurus, dan pelatih harus satu visi. Pengurus dan pelatih juga harus menyiapkan perencanaan kalau ingin pemainnya menang. Berikan mereka suasana kondusif untuk berlatih," lanjut Susy.

Hal senada diungkapkan atlet senior lain, Joko Suprianto. Ia menyatakan, kegagalan ini merupakan sejarah terburuk perbulutangkisan Indonesia. "Sulit rasanya menerima kenyataan ini. Indonesia yang dulu begitu berjaya kini telah terpuruk sedemikian dalam," tuturnya.

Ia meminta pengurus Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI) memperbaiki manajemen dan memperkuat atlet Indonesia untuk pertandingan-pertandingan bergengsi lain. "Semoga dengan kita mengungkapkan keprihatinan ini, PBSI bisa memperbaikinya. Jangan hanya masuk telinga kiri dan keluar telinga kanan. Bulu tangkis kita harus terus berjaya," ungkapnya.

Seperti yang diketahui, tim Thomas dan Uber Indonesia tersingkir pada perempat final dari lawan yang sama, Jepang. Dalam duel di Wuhan Sports Gymnasium Center, Rabu (23/5/2012), baik Tim Thomas maupun Uber menyerah dengan skor 2-3.

Di sektor putra, Simon Santoso sempat membuat Indonesia unggul berkat kemenangan 22-20, 21-14 atas Sho Sasaki. Namun, dalam dua partai selanjutnya Indonesia kalah. Ganda putra Markis Kido/Hendra Setiawan ditaklukkan Noriyasu Hirata/Hirokatsu Hashimoto dengan skor 16-21, 18-21, kemudian Taufik Hidayat kalah 12-21, 17-21 dari Kenichi Tago.

Indonesia sempat menyamakan skor menjadi 2-2 lewat ganda Mohammad Ahsan/Alvent Yulianto yang menang 21-17, 21-13 atas Hiroyuki Endo/Kenichi Hayakawa. Akan tetapi, pada partai penentuan, Dionysius Hayom Rumbaka menyerah 14-21, 19-21 dari Takuma Ueda.

Nasib serupa dialami tim Uber Indonesia. Di dua partai pertama Indonesia kalah karena Maria Febe Kusumastuti menyerah 14-21, 10-21 dari Sayaka Sato, kemudian ganda Meiliana Jauhari/Greysia Polii kalah rubber game dari Mizuki Fujii/Reika Kakiiwa.

Para srikandi Tanah Air sempat menyamakan kedudukan lewat Adriyanti Firdasari yang menang 21-13, 20-22, 21-14 atas Eriko Hirose. Poin kedua disumbang ganda Anneke Feinya Agustin/Nitya Krishinda Maheswari yang menang 21-11, 21-17 atas Mami Naito/Shizuka Matsuo.

Sayang, di partai penentu, lagi-lagi Indonesia kalah. Lindaweni Fanetri gagal melewati hadangan Minatsu Mitani. Setelah bermain tiga gim, dia menyerah 21-19, 13-21, 17-21.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau