Gunung Tangkuban Perahu Siapa yang Punya?

Kompas.com - 29/05/2012, 06:44 WIB

KOMPAS.com - Dengan bantuan makhluk halus, Sangkuriang yang sakti berusaha membangun perahu dan danau. Kekasihnya, Dayang Sumbi meminta Sangkuriang untuk membuat danau lengkap dengan perahunya dalam semalam.

Sebuah syarat jika Sangkuriang berhasil membuatnya sebelum fajar menyingsing, maka Dayang Sumbi mau menikah dengan Sangkuriang. Apa daya, fajar merekah dan para makhluk halus yang membantu Sangkuriang pun pergi terbirit-birit.

Perahu sudah jadi, tetapi danau belum rampung. Sangkuriang gagal! Dengan penuh amarah, Sangkuriang menendang perahu yang baru jadi setengah. Perahu itu pun terlempar dan terbalik, lalu berubah menjadi gunung.

Sebenarnya, fajar belum datang. Itu hanya akal-akalan Dayang Sumbi dengan membentangkan kain putih. Kain yang bersinar itu seakan-akan fajar yang menyinsing. Ia tak ingin menikahi Sangkuriang karena ternyata Sangkuriang adalah anaknya. Tak mungkin seorang ibu dan anak menikah.

Kisah lengkapnya tentu Anda sudah tahu. Legenda Sangkuriang dan Dayang Sumbi begitu melekat di setiap orang Indonesia. Inilah salah satu kekuatan daya tarik wisata dari Gunung Tangkuban Perahu.

Pemandangan yang elok dan hawa sejuk yang membuat nyaman, itu sudah pasti. Namun, kisah-kisah legenda dan mitos selalu memperkaya sebuah obyek wisata alam. Sayangnya, kisah ini hanya dikenal baik oleh orang Indonesia.

Tetapi tak begitu dengan turis asing. Syukur-syukur kalau membawa pemandu wisata yang dapat menceritakan kisah di balik gunung tersebut. Namun, sebagian besar wisatawan asing yang datang ke Bandung bukan dalam rombongan, tak biasa menggunakan pemandu wisata.

Pengelolaan


Urusan kurangnya informasi mengenai Gunung Tangkuban Perahu bagi turis asing menjadi satu masalah. Masalah lain adalah pengelolaan Gunung Tangkuban Perahu itu sendiri.

Wakil Gubernur Jawa Barat Dede Yusuf pernah mengutarakan ke pihak Perhutani untuk dicarikan solusi bagaimana caranya agar pemerintah daerah juga dapat ikut mengelola Tangkuban Perahu. Ia menuturkan Gunung Tangkuban Perahu ibarat ikon Jawa Barat.

“Kami ingin bisa ikut berpartisipasi mengelola dengan tujuan lestarikan lingkungan dan adat yang ada di Tangkuban Perahu,” kata Dede saat pembukaan Festival Budaya & Pariwisata Gunung Tangkuban Perahu di Gunung Tangkuban Perahu, Lembang, Bandung Barat, Rabu (16/5/2012).

Ia mengungkapkan selama ini jika ada wisatawan yang datang ke Gunung Tangkuban Perahu dan merasa fasilitasnya kurang memadai, mereka akan mengadu ke pemerintah daerah. Padahal, pihaknya sendiri tak bisa melakukan perbaikan dan pengelolaan. “Kita belum bisa berpartisipasi. Jadi seakan kita ini dapat baunya saja,” tuturnya.

Tak hanya itu, beberapa ruas jalan menuju Gunung Tangkuban Perahu pun ada yang rusak. Siapa yang punya jalan ini? Menurut Dede, jalan-jalan tersebut merupakan jalan milik negara.

Walau begitu, bukan berarti kunjungan wisatawan ke Gunung Tangkuban Perahu menyurut. Contoh saja Liza dari Malaysia. Ia pernah mendengar dari seorang teman mengenai keindahan Gunung Tangkuban Perahu.  “Mau ke sana nanti. Teman saya dari Penang sudah pernah ke sana,” ungkapnya.

Beberapa akomodasi berupa resor yang dilengkapi pemandian air panas banyak bertaburan di sekitar Gunung Tangkuban Perahu. Perjalanan dari Bandung ke Gunung Tangkuban Perahu juga melewati panorama pohon pinus dan pedagang satai kelinci.

Masuk ke kawasan Gunung Tangkuban Perahu, di kanan dan kiri jalan dipenuhi bunga-bunga terompet putih yang mekar. Ada beberapa kawah di gunung ini.  Wisatawan biasanya langsung menuju ke Kawah Ratu yang luas dan bagaikan danau hijau dari ketinggian. Di sini juga terdapat menara pandang untuk melihat kawah dan gunung dari ketinggian. Aroma telur busuk khas belerang menyeruak. Beragam suvenir dijual di tepi kawah ratu. Seperti syal sampai obat dari tumbuhan yang tumbuh di kawasan tersebut.

Pun aneka jajanan dan kopi hangat untuk mengusir dingin yang menyelusup. Di depan sana, Gunung Tangkuban Perahu tampak begitu magis dan membawa memori ke kisah Sangkuriang dan Dayang Sumbi.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau