Ditembak di Lutut, Tersangka Curanmor Tewas

Kompas.com - 29/05/2012, 16:32 WIB

BULUKUMBA, KOMPAS.com — Ramli, tersangka kasus pencurian motor, akhirnya meninggal dunia setelah kurang lebih enam jam mendapat perawatan intensif di ruang Instalasi Rawat Darurat  RSUD Andi Sulthan Daeng Radja, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan, Selasa (29/5/2012).

"Ramli ditembak di bagian lututnya, mungkin karena pendarahan menyebabkan dia meninggal. Rencananya polisi akan merujuknya ke RS Bhayangkara, tetapi terkendala persetujuan dari pihak keluarga," kata Kasat Reskrim Polres Bulukumba Ajun Komisaris  Andi Alimuddin yang ditemui di depan ruang jenazah.

Pihak keluarga baru datang ke rumah sakit ketika mendengar Ramli meninggal dunia. Rencananya hari ini jenazah bapak dua anak itu akan dikebumikan di kampung halamannya di Kecamatan Kajang.

Ramli yang baru menghirup udara bebas dua bulan terakhir dengan kasus yang sama, ditangkap di rumahnya pada Selasa dini hari. Polisi terpaksa menembaknya karena berusaha melawan polisi.

Dari Ramli, polisi kemudian mengembangkan penyelidikannya dan kembali menangkap tersangka lainnya bernama Amang dan Jafar. Dari tangan ketiga pelaku, polisi menemukan satu paket narkoba jenis sabu, delapan unit motor hasil curiannya, dan senjata tajam. "Narkoba itu kami dapat dari tangan Ramli, kami belum tahu apakah Ramli ini pengguna atau pengedar. Namun, yang jelas dalam kasus pencurian motor, Ramli merupakan bos besarnya, sementara Amang dan Jafar tim eksekutor," kata Alimuddin.

Amang hingga kini masih menjalani perawatan di rumah sakit setelah betis sebelah kanannya ditembak polisi, sementara Jafar saat ini telah berada di dalam tahanan mapolres.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau