Nampho, Selasa -
Wartawan The Associated Press yang mengunjungi Provinsi Phyongan Selatan, Selasa (29/5), melaporkan, tanah ladang merekah dan pecah, dibakar matahari yang bersinar terik. Pria dan wanita yang mengenakan topi lebar untuk mengurangi sengatan matahari bekerja keras menanam bibit kubis dan jagung. Bibit yang baru ditanam di tanah merah disiram dengan air dari wadah yang mereka bawa.
Korut hanya mendapat sedikit hujan sejak 27 April. Menurut badan prakiraan cuaca pemerintah, pesisir barat menjadi daerah terparah dilanda kekeringan. Kekeringan mengancam petani yang memasuki musim tanam, padahal hasil panen terakhir juga menurun.
”Saya telah menjadi petani lebih dari 30 tahun, belum pernah mengalami kekeringan separah ini,” ujar An Song Min, petani di Koperasi Pertanian Tokhae, di wilayah Nampho.
Namun, negeri itu sulit mengharapkan realisasi komitmen bantuan pangan dari tetangga mereka di selatan dan AS. AS dan Korsel, yang awal tahun ini menyepakati bantuan pangan sebagai balasan terhadap Korut untuk mengurungkan pengembangan program nuklir, berang karena Pyongyang nekat meluncurkan roket ke luar angkasa.
Belum jelas apakah kondisi di Nampho juga terjadi di wilayah yang lebih luas. Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) mengaku belum mengunjungi wilayah yang dilaporkan menderita kekeringan parah itu.
Media Pemerintah Korut melaporkan terjadinya kekeringan, tetapi belum meminta bantuan internasional. Saat terakhir kali meminta bantuan pangan internasional, keraguan menyeruak bahwa bantuan akan mencapai sasaran. Departemen Luar Negeri AS mengaku khawatir bantuan hanya diterima kelompok elite.