PBSI Berbesar Hati Terima Kegagalan

Kompas.com - 30/05/2012, 16:19 WIB

JAKARTA, Kompas.com - Ketua Umum PB PBSI Djoko Santoso berbesar hati mengakui dan menerima kegagalan tim Thomas dan Uber Indonesia dalam usahanya untuk membawa pulang simbol supremasi dunia bulu tangkis dari Wuhan, China. Pasukan Merah-putih tersingkir di perempat final.

"Saya tidak menyalahkan orang lain. Saya yang bertanggung jawab. Kalau ada salah, itu adalah kesalahan saya.... Saya mohon maaf kepada para pecinta bulu tangkis jika hasil tidak sesuai dengan harapan," kata Djoko di Komplek PB PBSI Cipayung, Jakarta, Selasa (29/5/2012).

Berkaitan dengan turunnya prestasi bulu tangkis Indonesia, Djoko mengakui bahwa pencarian bibit atlet bulu tangkis sulit, khususnya untuk atlet tunggal putri. Selain itu, tim Uber Indonesia, yang berada di peringkat tujuh dunia, kalah jauh di bawah tim Uber Jepang, yang berada di peringkat dua dunia.

"Tapi kita tidak menyerah.... selama saya belum mati, saya akan usaha terus," kata Djoko.

Setelah menuai hasil yang kurang memuaskan di Piala Thomas dan Uber, PB PBSI berusaha menerima masukan dari beberapa pihak sebagai evaluasi untuk tim bulu tangkis Indonesia.

"Terima kasih untuk teman-teman mantan pemain dunia yang memberikan masukan, kritik, dan saran. Akan kita pelajari dan evaluasi nantinya," kata Djoko.

Senada dengan Djoko, Sekjen PB PBSI Yacob Rusdianto mengatakan bahwa salah satu hal yang perlu diperhatikan adalah regenerasi atlet.

"Jujur saja, prestasi terakhir kita sudah tersalip oleh China dan Jepang.... Salah satu cara untuk mengatasinya adalah sekarang kita melirik ke regenerasi atlet," kata Yacob.

Yacob mengatakan, negara-negara seperti Jepang, Korea Selatan dan China mempunyai proses regenerasi yang bagus. Sebagai contoh, Pemerintah China secara langsung melakukan perekrutan bibit-bibit atlet berbakat, khususnya untuk bulu tangkis, dari jenjang sekolah dasar dan Porseni sekolah untuk selanjutnya dibentuk menjadi atlet nasional.

Selain itu, cabang olahraga bulu tangkis menjadi salah satu ekstrakurikuler wajib di sekolah-sekolah "Negeri Tirai Bambu" tersebut.

Di Jepang dan China, bibit atlet secara langsung diambil dan dibina oleh pemerintah, sementara di Indonesia, generasi atlet bulu tangkis diambil dari klub-klub bulu tangkis yang ada di daerah, kata Yacob.

"Sementara ini, Indonesia masih menemukan, belum menciptakan atlet. Sekali lagi untuk menciptakan atlet yang berbakat tidak bisa instan," kata Yacob.

Tim Thomas Cup Indonesia tersingkir di perempat final setelah dikalahkan Jepang 2-3 di Wuhan Sport Complex Gymnasium China, Rabu (23/5/12).

Tunggal ketiga Dionysius Hayom Rumbaka, yang menjadi penentu nasib Tim Thomas Indonesia, gagal mengatasi Takuma Ueda dan menyerah dua game langsung 14-21, 19-21 sehingga Indonesia untuk pertama kalinya dalam sejarah takluk di babak delapan besar.

Tim Uber Indonesia juga menyusul tersingkir di babak perempat final setelah dikalahkan Jepang dengan skor 2-3 pada hari yang sama. Lindaweni Fanetri, tunggal ketiga yang harus menjadi penentu setelah Indonesia menyamakan kedudukan 2-2, terpaksa mengakui ketangguhan Mitani Minatsu dengan skor 21-19, 13-21, 17-21.

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau