Jakarta, Kompas -
Ekonom Bank Mandiri, Destry Damayanti, di Jakarta, mencatat rupiah telah melemah 3,5 persen sejak awal Mei. ”Sejak awal tahun melemah 4,9 persen,” katanya.
Mengantisipasi rupiah yang terus melemah, BI akan menerbitkan rangkaian kebijakan untuk menjaga likuiditas valuta asing, khususnya dollar AS. Tujuannya, menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
Instrumen term deposit dollar AS yang siap terbit dua pekan mendatang itu hanya bagian dari rangkaian kebijakan tersebut. ”Konteksnya kestabilan nilai
Dody memaparkan, depresiasi rupiah dari minggu ke minggu sebesar 0,46 persen. Besaran depresiasi ini masih lebih rendah dibandingkan dengan won Korea atau ringgit Malaysia yang lebih dari 1 persen.
Ekonom Samuel Sekuritas, Lana Soelistianingsih, berpendapat, fasilitas term deposit dollar AS ini dikhawatirkan kurang efektif menangkal sentimen negatif dalam jangka pendek.
”Kebijakan ini diumumkan kemarin siang, tetapi efek kebijakan belum terlihat pada perdagangan rupiah di sesi kedua,” kata Lana. Ditegaskannya, tekanan atas nilai tukar rupiah di pasar
Dari sisi tersebut, kebijakan BI itu dilihat positif dalam jangka panjang, tetapi belum cukup kuat menahan sentimen negatif atas rupiah dalam jangka pendek. Fasilitas term deposit dollar AS diberikan dengan tenor 7 hari, 14 hari, dan 30 hari. Fasilitas ini efektif berlaku pada pertengahan Juni. Dengan fasilitas ini diharapkan pasokan dollar AS tetap berada di dalam negeri. Pada saat yang sama, BI bisa menarik deposit dollar AS yang ada di luar negeri.
Direktur Jenderal Pengelolaan Utang Kementerian Keuangan Rahmat Waluyanto menegaskan, gejala keluarnya dana asing
”Krisis tidak, siaga tidak, bahkan waspada pun tidak. Ini bisa dilihat sekadar sebagai penurunan yang masih teratur (
Selama satu setengah bulan ini, ia mengakui, kepemilikan
Menurut Rahmat, penurunan terjadi karena sejumlah penyebab, di antaranya reaksi spontan dari investor global, jika ada
Sekretaris Komite Ekonomi Nasional Aviliani menilai, terjadinya arus modal ke luar negeri (
”Volume ekspor tetap sama, hanya saja pendapatan ekspor lebih rendah meski harga komoditas tidak turun melebihi harga pokok sehingga masih tetap mendapat margin impor lebih murah. Pemerintah harus tahu kapan pengusaha melakukan impor bahan baku agar jangan memicu inflasi,” katanya.
”Pemerintah harus mendeklarasikan bahwa kebijakannya masih ramah pasar (