Pidato Bung Karno Akan Diperdengarkan Kembali

Kompas.com - 01/06/2012, 00:54 WIB

BANDUNG, KOMPAS.com — Pidato Presiden Indonesia pertama, Ir Soekarno, tanggal 1 Juni 1961 akan diperdengarkan kembali kepada seluruh masyarakat Jawa Barat pada 1 Juni 2012 melalui siaran radio, dalam rangka pencanangan Bulan Juni sebagai Bulan Bung Karno.

"Pidato pada tanggal 1 Juni 1945 tidak ada rekamannya, tapi pada tahun 1961 ada, dan kita sampaikan kembali pada peringatan sekarang," kata Bendahara DPD PDI Perjuangan Jawa Barat Mathius Tandiontong di Kota Bandung, Kamis (31/5/2012).

Rekaman pidato yang berdurasi sekitar 30 menit ini, kata Mathius, berisikan tentang dasar berdirinya bangsa Indonesia yang dipaparkan oleh Bung Karno.

"Isinya dasar berdirinya bangsa Indonesia. Sebenarnya bukan belum pernah terungkap, cuma persoalannya ialah urutan-urutan Pancasila itu berbeda," katanya.

"Tapi diformalkan oleh Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) menjadi urutan Pancasila yang sekarang ada, yakni urutannya dimulai dari Ketuhanan Yang Maha Esa. Kalau di pidato Bung Karno dimulai dengan kebangsaan atau diawali bersatunya kebangsaan," tambah Mathius.

Dia mengatakan, rekaman pidato tersebut serentak akan diputar di 14 radio swasta yang ada di Provinsi Jawa Barat (Jabar) pada tanggal 1 Juni 2012 pukul 20.00 WIB.

"Untuk Jabar sendiri ada 14 radio yang akan memutarkan rekaman pidato Bung Karno ini. Di Bandung bisa didengarkan di Radio Mara, Garuda, dan Radio Lita," ujar dia.

Pihaknya menambahkan, DPD PDI Perjuangan pada tanggal 3 Juni 2012 akan digelar Rapat Umum Kebangsaan di Gedung Sasana Budaya Ganesha (Sabuga) Bandung. "Pada tanggal 3 Juni itu kita akan beri nama Rapat Umum Kebangsaan.

"Kita coba membangun sebuah oratorium yang kembali mengingatkan kepada kader partai khususnya, yakni tentang perjalanan sejarah bangsa ini, khususnya PDI-P dari Bandung," ujar dia.

Alasan dipilihnya Gedung Sabuga Bandung sebagai tempat pelaksanaan, kata Mathius, karena Kota Bandung merupakan kota sejarah bagi Bung Karno.

"Kenapa di Bandung atau Sabuga karena Bung Karno pernah kuliah di ITB. Pada intinya ialah kalau secara eksternal kita bisa membangun komunikasi politik dengan masyarakat Jabar," katanya.

Pada kesempatan tersebut, kata dia, juga akan ada penyerahan secara simbolis, Kujang, kepada Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarno Putri.

"Penyerahan ini sebagai amanat yang disampaikan rakyat Jabar kepada PDI-P bahwa PDI-P bertanggung jawab membangun Jabar. Bukan penghargaan kepada PDI-P, melainkan memberikan tugas kepada PDI-P agar melaksanakan apa yang menjadi harapan-harapan rakyat Jabar," katanya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau