KOMPAS.com - Reputasi Giovanni Trapattoni sebagai pelatih klub tak perlu diragukan. Pria berusia 73 tahun ini sudah banyak makan asam garam sekaligus menikmati manisnya gelar juara saat menangani klub papan atas Italia, seperti AC Milan, Inter Milan, ataupun Juventus. Dia juga menambah kisah sukses kepelatihannya bersama klub Jerman, Austria, dan Portugal.
Pengalamannya sebagai pemain juga semakin memperkaya cara pandangnya soal sepak bola. Trapattoni dikenal sebagai pelatih yang berkarakter dan selalu punya visi yang jelas terhadap tim yang dipimpinnya.
Ketika ditunjuk sebagai pelatih Irlandia tahun 2008, tidak sedikit pengamat yang melihatnya dengan sinis. Ini karena Irlandia merupakan tim nasional pertama yang akan ditangani Trapattoni.
Awalnya tidak mudah buat Trapattoni. Namun, pria asal Italia ini punya gaya sendiri untuk menjawab tantangan. Keberhasilannya membawa Irlandia ke putaran final Piala Eropa 2012 adalah prestasi gemilang pertama tim berjuluk ”The Boys in Green” setelah tahun 1988.
Namun, buat sebagian suporter Irlandia, hasil ini tetap tak memuaskan. Apalagi buat penggemar yang sudah terbiasa menikmati gaya sepak bola liberal yang belakangan ini selalu diperagakan Barcelona atau tim Spanyol.
Trapattoni mengaku tak terlalu pusing dengan kritikan ini. Dengan enteng dia mengatakan, dia lebih mementingkan hasil akhir daripada menampilkan permainan sepak bola yang menghibur.
Selalu percaya
”Sepuluh tahun lalu di ajang Piala Dunia 2002, kubu Irlandia lama bermain sangat baik dalam kurun waktu 10-12 tahun terakhir. Kini segala sesuatunya tentang sepak bola sudah sangat berbeda,” kata Trapattoni, seperti dikutip BBC.
”Apa yang selalu saya minta dari tim adalah untuk selalu percaya dengan kemampuan sendiri. Kami sudah menunjukkan dan meminta mereka melakukan seperti yang diminta dan mereka memahami,” ujarnya.
Ditambahkan, dalam sepak bola, ada pertunjukan dan juga ada hasil. ”Anda bisa menampilkan permainan yang indah seperti Bayern Muenchen di final Liga Champions, tetapi tak bisa meraih hasil bagus. Setelah tiga hari, hasil itu tetap ada dan penampilan akan dilupakan. Sebaliknya, orang akan mengenang Chelsea,” ujarnya.
Trapattoni banyak dikritik karena menampilkan teknik-teknik permainan lama yang dianggap sudah ketinggalan zaman, yakni bermain bertahan dan menyerang jika ada kesempatan. Namun, inilah gaya sepak bola konservatif. Trapattoni adalah pelatih yang setia dengan satu pola. Jadi, jangan pernah berharap bisa menyaksikan gaya sepak bola indah yang liberal dari tim Irlandia. (GATOT WIDAKDO)
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang