Ekspedisi katulistiwa

Disinyalir Kijang Emas Masih Ada

Kompas.com - 02/06/2012, 12:26 WIB

 

 

BANJARMASIN, KOMPAS.com -Tim Ekspedisi Khatulistiwa 2012 Sub Kor dinator Wilayah 08/HST, mensinyalir populasi dan habitat kijang mas di Kawasan Pegunungan Maratus, Kalimantan Selatan, masih ada.

Dugaan masih adanya kijang emas tersebut diperkuat dengan di temukannya tengkorak kijang mas di area perkebunan milik warga, ketika Tim Penjelajah dan Peniliti 2 yang dipimpin oleh Kapten Psk Efendi Hermawan melaksanakan penelitian Senin lalu di Desa Haratai, Kecamatan Loksado, Kabupaten Hulu Sungai Selatan.

Kepada Kompas, Sabtu (2/6), Perwira Sejarah Subkorwil 08/HST, Mayor Sus Komaruddin menuturkan, kijang mas/kijang kuning atau yang oleh masyarakat setempat dikenal dengan sebutan kijang hilalang merupakan salah satu satu satwa endemik Kalimantan yang kian langka dan sulit ditemukan lantaran sering diburu untuk dikonsumsi.

Kijang ini diburu warga di area Gunung Haung Haung yang lokasinya sekitar lima jam perjalanan dari Desa Haratai. Warga setempat menganggap kijang mas sebagai kijang biasa. Sehingga kepala satwa ini dibuang, tidak disimpan seperti halnya kijang lainya yang memiliki nilai seni tersendiri.

"Saya dapat Kijang ini sekitar tiga bulan yang lalu di Gunung Haung Haung, di sana kami sering memasang Jipah (jerat tali), tapi kepalanya saya buang di Huma, karena tidak menarik untuk dipajang dirumah,"  kata Uncau (46), salah satu warga Haratai.

Dari tengkorak yang ditemukan, salah satu anggota Tim Peneliti Ekspedisi Khatulistiwa 2012 Dr. Ir. Abdu l Haris Mustari, M.Sc yang terlibat langsung dalam kegiatan penelitian dan menemukan tengkorak tersebut, mengatakan, dari temuan tengkorak di Haratai diduga kuat itu kijang mas.  

 

Jika dibandingkan dengan tengkorak kijang biasa terdapat perbedaan mencolok. Kijang mas tidak terdapat sendi pada pangkal rangganya, masing-masing rangga memiliki satu cabang, ramping dan sedikit melengkung serta pedisel (tulang di bawah rangga) ramping dan melengkung.  

 

Sedangkan kijang biasa mempunyai dua cabang pendek, lebih besar dan terdapat sendi pada pangkal rangga serta pedisel tebal dan lurus.  

 

"Kijang Mas memiliki warna Merah Kekuningan dan terdapat garis gelap disepanjang garis punggungnya, sementara kijang biasa berwarna kemerahan tua, jelas Haris.  

 

Kijang Mas memang tergolong langka dan belum terdaftar, karena kekurangan dan sangat terbatasnya data-data tentang kijang tersebut, namun saat ini keberadaan "Kijang Mas semakin langka dan hampir punah, daerah penyebarannya berada dihutan pegunungan yang sulit diakses manusia," kata Haris.  

 

Sementara itu Wakil Komandan SubKorwil 08/HST Mayor I nf Ardian Triwasana mengatakan dengan ditemukannya tengkorak kijang mas, pihaknya berharap hal itu bisa menjadi masukan bagi semua pihak, terutama warga Kalsel untuk meneliti lebih lanjut dan dimasukkan dalam daftar jenis satwa yang dilindungi.

 

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau