Lingkungan

Rawa Tripa di Ambang Kemusnahan (Bagian 1)

Kompas.com - 04/06/2012, 08:46 WIB

KOMPAS.com- Hutan Rawa Gambut Tripa di Kabupaten Nagan Raya, Aceh, pernah menjadi kawasan dengan keanekaragaman hayati terkaya di Sumatera. Kala tsunami 2004, hutan gambut ini juga menjadi benteng alami bagi permukiman warga di dalamnya.

Namun, semua kisah gemilang itu kini tinggal hikayat. Perkebunan sawit nyaris menghabisi semua luasan hutan. Kerusakan alam dan konflik lahan pun kini menjadi sumber bencana baru di Tripa.

Suratman (45), warga Desa Sukarame, Kecamatan Darul Makmur, Tripa, Nagan Raya, masih ingat betul, hingga tahun 1980-an, kawasan sekitar Rawa Tripa sangat nyaman untuk tempat tinggal. Kala itu, hutan-hutan gambut belum banyak dirambah.

Warga memanen padi setahun sekali, yang cukup untuk kebutuhan makan selama satu tahun. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, warga memasang bubu (alat penangkap ikan darat ) di rawa sekitar hutan, atau mencari lebah di pohon-pohon hutan.

"Kami tak pernah kekurangan saat itu. Hutan Tripa sudah menyediakan semuanya. Dari nasi sampai lauk pauk. Ikan dan madu bisa kami jual untuk membeli sesuatu ataupun membayar uang anak sekolah," kata dia ketika ditemui pertengahan Juni lalu.

Tak hanya itu, hutan yang lebat juga memberikan kesejukan dan menghalau cuaca panas pantai. Burung-burung rawa seperti camar, rangkok, dan jalak yang beraneka warna beterbangan sekitar perkampungan. Orangutan Sumatera (Pongo abelii), harimau Sumatera, beruang, dan rusa, masih banyak bermukim di hutan dan jarang berkonflik dengan manusia.

"Waktu itu sangat damai. Air bersih pun melimpah. Banjir sangat jarang, dan hawa tak sepanas sekarang. Desa kami bahkan dikenal sebagai penghasil ikan lele rawa yang banyak, yang dijual sampai ke Aceh Selatan," tutur M Ibduh (50), Keuchik (kepala desa) Desa Sumber Bakti, Kecamatan Darul Makmur.

Namun, semua kisah itu kini tinggal romantika bagi warga Tripa. Lahan pertanian tak lagi menjanjikan karena tanah rawa yang kian mengering. Sebagian warga di desa-desa sekitar Rawa Tripa memang sampai saat ini masih ada yang menanam padi tadah hujan, namun hanya sebagai sampingan. Ikan-ikan rawa sebagian besar sudah menghilang, demikian pula madu hutan.

Pekerjaan utama mereka menjadi buruh perkebunan sawit, atau ikut-ikutan menanam sawit atau kakao alakadarnya di kawasan hutan. Bahkan, sebagian menjadi buruh di lahan mereka sendiri yang sudah diserobot perusahaan perkebunan.

"Miris kalau melihat kenyataan saat ini. Bertani jelas tidak cukup untuk hidup, karena hasilnya jelek. Tanah tak lagi subur, air sudah tak ada karena dibuat kanal-kanal oleh perusahaan sawit. Banyak warga yang kehilangan lahan bertaninya karena diambil paksa perusahaan perkebunan, seperti yang saya alami sendiri. Mereka kini jadi buruh perkebunan atau bekerja di kota," papar Saino (40), warga Desa Panton Bayu, Kecamatan Darul Makmur.

Banjir menjadi bencana baru bagi warga. Setiap musim hujan tiba, banjir datang. Desa-desa di sekitar Tripa yang dulunya tak pernah banjir, kini terkena banjir. Seperti terjadi pada Maret 2010 lalu, saat banjir dengan ketinggian air lebih dari satu meter melanda belasan desa di kawasan Rawa Tripa. 

Ini adalah peristiwa yang dulu sebelum tahun 2000-an jarang terjadi. Belum lagi kesulitan air bersih akibat hilangnya hutan. (MOHAMAD BURHANUDIN/Bersambung)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau