JAKARTA, KOMPAS.com — Nilai tukar rupiah kembali melemah pada awal pekan. Tekanan belum sepenuhnya hilang, khususnya menyikapi perkembangan krisis di Spanyol. Nilai tukar rupiah kemarin ditutup melemah pada Rp 9.428 per dollar AS (kurs tengah Bloomberg) kendati Bank Indonesia berada di pasar.
Sementara itu, indeks di bursa Asia juga masih tertekan. Bahkan, Indeks Harga Saham Gabungan turun paling tajam sebesar 3,4 persen menjadi 3.654,58. Harga minyak mentah kembali naik tipis setelah tertekan beberapa hari sebelumnya.
Ekonom Samuel Sekuritas Indonesia, Lana Soelistianingsih, di Jakarta, Selasa (5/6/2012), menyatakan, sentimen global masih sangat labil dan begitu khawatir dengan perkembangan di Spanyol yang tampaknya akan menjadi korban krisis berikutnya. Indeks di bursa global bervariasi, yang mengakibatkan bervariasinya bursa Asia hari ini.
"Untuk rupiah kami perkirakan masih dalam penjagaan BI, bergerak di kisaran Rp 9.350-Rp.9.450 per dollar AS hari ini," kata Lana.
Dari domestik, pemerintah akan melakukan lelang surat utang negara (SUN) senilai Rp 5 triliun untuk empat seri. Lelang ini, menurut Lana, masih akan diminati investor. Akan tetapi, investor akan meminta imbal hasil lebih tinggi daripada yang ada di pasar sekunder untuk tenor yang sama. Per 22 Mei telah dicapai 55 persen dari target total senilai Rp 271,6 triliun dari penerbitan SUN.
Lana menegaskan, lelang ini membantu mengurangi tekanan pelemahan rupiah atas dollar AS.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang