"Ensiklopedia Agrobudaya" di Acara Seabad Seminari

Kompas.com - 05/06/2012, 17:17 WIB

Ratusan petani dengan kostum berbagai kesenian berjajar di jalan utama memasuki kompleks berpepohonan rindang yang dipenuhi ribuan umat, ketika misa akbar puncak perayaan Seabad Seminari Mertoyudan dipimpin Uskup Agung Semarang Monsinyur Johannes Pujasumarta hampir rampung.

Mereka membentuk pagar betis sepanjang sekitar 100 meter untuk menghadang umat agar tidak melewati jalan beraspal itu tatkala rombongan sejumlah uskup, termasuk Kardinal Julius Darmaatmaja, diarak dari altar menuju panggung dengan intalasi bahan alam untuk pementasan kolosal "Ensiklopedia Agrobudaya".

Begitu dua lagu terakhir misa itu, "Gereja Bagai Bahtera" dan "Mars Seminari", rampung dikumandangkan oleh kelompok paduan suara dengan kemegahan ensambel musiknya di dekat altar, para seniman petani menyambungnya melalui lantunan tabuhan gamelan mereka dari atas panggung seluas 150 meter persegi.

Asap kemenyan di dalam tempayan yang dibawa seorang petani, Cipto pun mengepul, sedangkan seorang lainnya Supadi Haryono menaburkan bunga mawar merah putih sepanjang perarakan para uskup tersebut.

Sejumlah tokoh seniman petani Komunitas Lima Gunung (Merapi, Merbabu, Andong, Sumbing, dan Menoreh) Magelang seperti Sitras Anjilin, Sumarno, Ismanto, Pangadi, penari Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta Nana Ayomsari, dan dua penyair Dorothea Rosa Herliany serta Atika mengiring perarakan sebagai rangkaian pembuka pergelaran "Ensiklopedia Agrobudaya" yang ditonton berdesakan para umat berasal dari berbagai tempat yang memadati kompleks seminari itu.

Panas terik satu jam menjelang tengah siang itu seakan menjadi tidak terasakan ribuan orang saat prosesi tersebut. Apalagi halaman kompleks pendidikan awal calon imam Katolik di tepi Jalan Raya Magelang-Yogyakarta itu penuh dengan pepohonan yang rindang.

Siang itu, keluarga besar Seminari Menengah Mertoyudan, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, menggelar puncak rangkaian perayaan ulang tahun ke-100 lembaga pendidikan tersebut. Berbagai kegiatan telah mereka selenggarakan selama setahun terakhir untuk merayakan peristiwa penting itu.

Seminari Mertoyudan yang dirintis oleh misionaris Belanda Romo F. Van Lith telah melahirkan puluhan ribu alumni yang kemudian sebagian menjadi pastor dan beberapa di antara mereka berlanjut sebagai uskup yang saat ini berkarya di beberapa daerah di Indonesia, termasuk dua kardinal yakni Justinus Darmayuwono (almarhum) dan Julius Darmaatmaja.

Alumni seminari Mertoyudan juga menjadi para awam dan tokoh Katolik yang melalui profesi masing-masing, tersebar di berbagai tempat di dunia. Saat ini, seminari setempat merengkuh sekitar 300 kaum muda Katolik untuk menelusuri panggilan khusus sebagai imam Katolik.

Usia seabad Seminari Mertoyudan jatuh pada 30 Mei 2012, sedangkan puncak perayaan 100 tahun itu berlangsung pada Sabtu (2/6) antara lain melalui misa akbar dipimpin Uskup Agung Semarang Monsinyur Johannes Pujasumarta dan pergelaran seni budaya kolosal bertajuk "Ensiklopedia Agrobudaya" digarap oleh Sutanto Mendut, pemimpin tertinggi kelompok seniman petani yang tergabung dalam Komunitas Lima Gunung Magelang.

Mereka yang hadir pada puncak perayaan seabad Seminari Mertoyudan dengan tema besar "Setia Menyemai Benih Panggilan" itu antara lain para romo provinsial, umat Katolik, para seminaris (siswa seminari), orang tua, wali, dan keluarga seminaris, imam, bruder, frater, suster, serta alumni.

Pada masa lalu, kata Uskup Pujasumarta saat khotbah misa itu, Romo Van Lith menyelami kebudayaan Jawa untuk mewartakan kabar gembira keselamatan dari Yesus. "Romo Van Lith pergi ke tempat yang dalam, ke dalam kebudayaan Jawa sehingga pelajarannya sangat hidup," katanya.

Uskup Pujasumarta pun di atas panggung "Ensiklopedia Agrobudaya" Komunitas Lima Gunung didaulat membuka pergelaran tersebut didampingi Sutanto Mendut, dengan memukul gong yang dipegang seorang seniman petani berpakaian tarian tradisional Gunung Merbabu "Soreng", Parmadi.

"Kita buka pentas seni Lima Gunung siang ini (2/6). ’Lima roti menjadi lima gunung’," katanya disambut tepuk tangan para penonton.

Sutanto menimpali sambutan Uskup Pujasumarta melalui pernyataan terima kasih komunitas seniman petani lima gunung karena berkesempatan menyuguhkan karya mereka dalam peristiwa penting itu.

"Siang ini (2/6), kami dari dusun-dusun di lima gunung mendapat kesempatan penting untuk bergaul dengan seminaris yang sedang merayakan puncak seabad berdirinya Seminari Mertoyudan," katanya.

Satu puisi "Penari di Tanah Cinta" meluncur dibaca penyair Dorothea Rosa Herliany berkolaborasi dengan puisi "Malam Surgawi" Atika dan pembacaan "Life Sentences" pegiat Wardah Hafidz.

"Jutaan orang bergerak menuju puncak peradaban, insan menggapai-gapai jati dirinya yang berkecamuk, dalam teknologi, kultur, birokrasi, pertarungan, dan akhirnya adalah perang melawan diri sendiri. Ini adalah gerakan kaki bahkan jemari, yang meruyak membangunkan mimpi kita, tentang kebajikan memahami kala’," demikian beberapa bait puisi yang dibacakan Rosa Herliany itu.

Para tokoh seniman petani kemudian menyajikan performa kolaborasi "Ritus Lima Gunung", masing-masing Cipto "Ondo Gunung", Sitras Anjilin "Ondo Jiwo", Nana "Tembang Ondo Tresno", Ismanto "Ondo Lara Jiwa", Supadi "Tembang Ondo Kencono", Sumarno "Ondo Kesurupan", dan Pangadi "Ondo Ponco Warno". "Ondo" artinya tangga.

Berbagai pementasan lainnya seperti tarian "Kipas Mega" oleh sejumlah perempuan Gunung Merbabu yang menggambarkan kiprah keseharian mereka sebagai petani perempuan gunung dan sendratari "Sekar Agung" (Andong) gambaran energi atas kegagahan lima gunung.

Selain itu, tarian "Geculan Bocah", "Gupolo Gunung", dan "Soreng" (Merbabu), masing-masing antara lain tentang karakter polos dan lucu anak-anak gunung, simbol gupala sebagai penjaga kelestarian alam dengan ekosistemnya, serta semangat kepahlawanan gunung.

Sekelompok seniman petani lainnya dari Desa Petung, Kecamatan Candimulyo menyuguhkan "Akapela Gunung", berupa kolaborasi tembang akapela dusun dengan tarian tradisional "Grasak" dan performa kehidupan sehari-hari masyarakat desa "Ensiklopedia Wonoseni" dari Dusun Wonolelo, Kecamatan Bandongan.

Komunitas "Gadung Mlati" (Merapi) dalam rangkaian pergelaran berdurasi 90 menit tersebut menyuguhkan performa gerak "Lara Jiwo" dengan tabuhan musik drum berbalut anyaman bambu, di atas sejumlah tatanan papan terbuat dari bambu setinggi tiga meter.

Di luar arena panggung, sejumlah kelompok seniman petani lainnya mementaskan keseniannya di beberapa tempat di halaman rindang seminari itu antara lain "Lengger Krandegan", "Jaran Papat", "Tarian Asap", dan musik "Pitutur".

Nampak secara istimewa pada kesempatan itu, seniman petani Padepokan "Tjipto Boedojo Tutup Ngisor" (Merapi) pimpinan Sitras Anjilin menyuguhkan wayang orang dengan lakon "Arjunawiwaha Gunung".

Lakon wayang "Arjunawiwaha" yang pakemnya bertutur perkawinan Arjuna (Widya Sumpena) dengan Dewi Supraba (Nana), ditekuk menjadi tidak sekadar bercerita percintaan mereka, melainkan diteruskan tentang kelahiran generasi baru Pandawa yang menang menghadapi angkara murka disimbolkan para Kurawa.

"Pesan dari pentas wayang orang ini memang ajakan merenungkan pentingnya pendidikan untuk melahirkan generasi muda yang tangguh, lebih baik dari generasi-generasi sebelumnya, dan bisa diandalkan untuk hidup yang lebih baik," kata Sitras usai menjadi dalang pementasan itu.

Dikisahkan pada babak akhir lakon "Arjunawiwaha Gunung" itu, enam anak dengan pakaian wayang orang yang menggambarkan para cucu Pandawa, memenangi peperangan melawan para Kurawa.

"Membaca ’Ensiklopedia Agrobudaya’ ini memang hanya pertunjukkan 90 menit, tetapi kenyataannya ’ensiklopedia agrobudaya’ terjadi 24 jam setiap hari, tidak berkesudahan," kata Sutanto Mendut.

"Ensiklopedia Agrobudaya" memang pertunjukkan multidimensi dan multiperspektif yang disuguhkan para seniman petani itu melingkupi kemasan berbagai wujud seperti musik, sastra dan mantra, tari, properti alam, sesaji, dan kehidupan sehari-hari masyarakat desa.

Ia menyebut agrobudaya bukan sebatas teknologi pertanian dan peternakan atau dunia pangan, akan tetapi sebagai kosmologi hidup yang melintasi jagat manusia.

Agrobudaya, katanya, mengatasi zaman, hal ikhwal menyangkut tradisi yang sekaligus kontemporer, pakem dan sekaligus pembaruan.

"Pemaknaannya adalah Seminari sadar atau tidak sadar bersentuhan dengan dimensi agrobudaya," kata Sutanto yang beberapa waktu lalu menjadi pengajar tamu di Program Pascasarjana ISI Yogyakarta itu.

Pentas berdurasi 90 menit itu bagaikan ajakan semua saja, khususnya yang berkesempatan hadir di halaman Seminari Mertoyudan siang itu, untuk membaca buku. Buku bernama "Ensiklopedia Agrobudaya" itu mungkin menjadi referensi penting pengembangan pendidikan seminari.

Uskup Pujasumarta juga mengisyaratkan pentingnya keluarga besar Seminari Mertoyudan yang telah berusia seabad itu terus berbenah agar para alumninya semakin memainkan peran penting dalam perubahan zaman.

Dengan mengutip kisah Yesus dengan para murid yang sedang mencari ikan di Danau Tiberias, Galilea, dengan mengubah menebar jala dari kiri ke kanan perahu, Uskup Pujasumarta berkehendak atas pengembangan pendidikan para seminaris itu.

Dan pergelaran kolaborasi seniman petani gunung "Ensiklopedia Agrobudaya" itu, agaknya menjadi pengibarat lain atas perlunya pengembangan pendidikan Seminari Mertoyudan yang terletak di kawasan lima gunung tersebut.

Seminaris bagaikan kaum cucu energi gunung yang kelak menghadapi para Kurawa dalam lakon "Arjunawiwaha Gunung", sedangkan tentang waktu bagi mereka, secara jelas termaktub dalam satu bait terakhir puisi Rosa Herliany, "Penari di Tanah Cinta".

"’Mereka adalah penari, dan dengan hentakan tubuh, mereka menyadarkan sebuah jagat dalam kuluman waktu’".

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau