JAKARTA, KOMPAS.com - Muara Angke, yang kini dikenal karena kuliner lautnya, ternyata merupakan salah satu kawasan bersejarah di DKI Jakarta. Tempat ini dahulu merupakan pelabuhan utama Kerajaan Pakuan, Padjajaran, dan juga Batavia
Pesisir tempat bermuaranya aliran sungai Ciliwung, kini berubah peran menjadi tempat pelelangan ikan. Seperti muara pada umumnya, Angke juga kerap mengadakan pesta laut.
Tahun ini beragam acara diadakan, mulai wayang kulit, dangdut, bazaar hingga acara puncaknya nadran. Acara yang berlangsung dari tanggal 4-5 Juni 2012 tahun ini mengusung tema nelayan sejahtera, negara kuat.
"Pesta laut merupakan usaha dari para warga Muara Angke memohon berkah," ujar Amin, pedagang di tempat pelelangan ikan Muara Angke, Jalan Dermaga Ujung, Kelurahan Pluit, Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara, Selasa (5/6/2012).
"Nadran adalah bagian terpenting pada pesta laut, semacam memberikan sajen untuk laut," lanjutnya.
Nadran berasal dari kata nazar, yang berarti doa. Dari sejarah, upacara nadran bermula sejak tahun 410 Masehi, ketika Raja Tarumanegara memerintahkan penguasa Kerajaan Indraprahasta membangun tempat pemandian.
Tradisi mandi suci pun mengikuti perkembangan zaman dan bergeser menjadi pesta laut. Pesta unik milik masyarakat pesisir, yang juga menjadi kepercayaan bagi warga Muara Angke.
Pesta laut memang tidak serta merta merubah hitamnya laut Angke menjadi bersih dari limbah industri. Namun acara ini seperti memberi relaksasi sebelum mereka kembali menghampiri luasnya laut Jakarta esok.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang