Penampilan Swedia di panggung Piala Eropa tidak semengilap di Piala Dunia. Pencapaian tertinggi tim berjuluk ”Blagult” (tim Biru-Kuning) adalah semifinalis 1992 yang digelar di negeri mereka. Hasil ini mereka petik setelah memukul Inggris dan Denmark serta menahan seri Perancis pada laga pembuka.
Sejak itu, penampilan mereka timbul tenggelam. Sempat tidak lolos tahun 1996 (Inggris), Swedia selalu hadir pada tiga Piala Eropa terakhir, dan tampil menawan pada 2004, saat mereka tersingkir setelah tak terkalahkan. Di Piala Eropa yang digelar di Portugal itu, mereka menggasak Bulgaria 5-0, menahan seri Italia dan Denmark, sebelum kalah adu penalti 4-5 dari Belanda di perempat final.
Salah satu karakter Swedia, yakni potensi mereka yang kerap jadi kerikil tim-tim besar. Inggris yang akan menjadi salah satu pesaing mereka di Grup D, misalnya, belum pernah bisa mengalahkan Swedia di Piala Eropa ataupun Piala Dunia.
”Salah satu faktor kemungkinannya, yakni (laga melawan Inggris) selalu dianggap laga besar bagi Swedia karena sepak bola Inggris populer di negeri kami,” kata Sebastian Larsson, gelandang Swedia, saat ditanya mengapa Inggris belum mampu memukul Swedia pada laga kompetitif.
Kemenangan Inggris 1-0 atas Swedia di Wembley, 15 November 2011, adalah kemenangan pertama setelah 43 tahun! Selama bertahun-tahun sejak pertengahan 1970-an, sepak bola Swedia sering dianggap ”lebih Inggris” daripada sepak bola Inggris sendiri. Negeri itu lama menjadi penganut 4-4-2 yang konservatif.
Situasi mulai berubah setelah Pelatih Erik Hamren datang. Hamren mencoba mengambil inspirasi dari Jerman yang sukses di Piala Dunia 2010 dengan skuad pemain-pemain muda. Di bawah pelatih berusia 54 tahun itu, Swedia meninggalkan 4-4-2 dan beralih ke 4-2-3-1 sebagai skema dasar permainan mereka.
Swedia lolos ke Polandia-Ukraina sebagai runner-up grup terbaik. Seperti yang selalu diperlihatkannya, Swedia menjadi kuda hitam di Grup D. Ini harus diwaspadai tim favorit Perancis dan juga Inggris.(MH SAMSUL HADI)