Grup d: swedia

Swedia, Kuda Hitam Skandinavia

Kompas.com - 06/06/2012, 02:58 WIB

Negeri Skandinavia ini hanya berpenduduk kurang dari 9,5 juta jiwa. Namun, profil kekuatan sepak bola mereka seperti menembus batas langit saat tampil di final Piala Dunia 1958, Piala Dunia yang digelar di negeri mereka, dan kalah dari Brasil. Jika itu dianggap terlalu lama, pada Piala Dunia 1994 Amerika Serikat, Swedia menempati peringkat ketiga.

Penampilan Swedia di panggung Piala Eropa tidak semengilap di Piala Dunia. Pencapaian tertinggi tim berjuluk ”Blagult” (tim Biru-Kuning) adalah semifinalis 1992 yang digelar di negeri mereka. Hasil ini mereka petik setelah memukul Inggris dan Denmark serta menahan seri Perancis pada laga pembuka.

Sejak itu, penampilan mereka timbul tenggelam. Sempat tidak lolos tahun 1996 (Inggris), Swedia selalu hadir pada tiga Piala Eropa terakhir, dan tampil menawan pada 2004, saat mereka tersingkir setelah tak terkalahkan. Di Piala Eropa yang digelar di Portugal itu, mereka menggasak Bulgaria 5-0, menahan seri Italia dan Denmark, sebelum kalah adu penalti 4-5 dari Belanda di perempat final.

Kerap jadi kerikil

Salah satu karakter Swedia, yakni potensi mereka yang kerap jadi kerikil tim-tim besar. Inggris yang akan menjadi salah satu pesaing mereka di Grup D, misalnya, belum pernah bisa mengalahkan Swedia di Piala Eropa ataupun Piala Dunia.

”Salah satu faktor kemungkinannya, yakni (laga melawan Inggris) selalu dianggap laga besar bagi Swedia karena sepak bola Inggris populer di negeri kami,” kata Sebastian Larsson, gelandang Swedia, saat ditanya mengapa Inggris belum mampu memukul Swedia pada laga kompetitif.

Kemenangan Inggris 1-0 atas Swedia di Wembley, 15 November 2011, adalah kemenangan pertama setelah 43 tahun! Selama bertahun-tahun sejak pertengahan 1970-an, sepak bola Swedia sering dianggap ”lebih Inggris” daripada sepak bola Inggris sendiri. Negeri itu lama menjadi penganut 4-4-2 yang konservatif.

Situasi mulai berubah setelah Pelatih Erik Hamren datang. Hamren mencoba mengambil inspirasi dari Jerman yang sukses di Piala Dunia 2010 dengan skuad pemain-pemain muda. Di bawah pelatih berusia 54 tahun itu, Swedia meninggalkan 4-4-2 dan beralih ke 4-2-3-1 sebagai skema dasar permainan mereka.

Swedia lolos ke Polandia-Ukraina sebagai runner-up grup terbaik. Seperti yang selalu diperlihatkannya, Swedia menjadi kuda hitam di Grup D. Ini harus diwaspadai tim favorit Perancis dan juga Inggris.(MH SAMSUL HADI)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau