Suriah

Persona Nongrata untuk Diplomat Barat

Kompas.com - 06/06/2012, 03:29 WIB

Damaskus, Selasa - Suriah, Selasa (5/6), mengumumkan para diplomat dari beberapa negara Barat dan Turki sebagai persona nongrata—orang yang tidak disukai. Pengumuman itu muncul saat Rusia dan China, dua sekutu dekat yang menolak intervensi asing terhadap Damaskus, mulai membahas krisis Suriah di Beijing, China.

Menurut Kementerian Luar Negeri Suriah, pernyataan persona nongrata itu dialamatkan kepada para duta besar Amerika Serikat, Inggris, Perancis, Turki, dan beberapa lainnya. Sikap itu adalah reaksi atas pengusiran diplomat Suriah oleh Barat dan sekutunya, setelah insiden Houla yang menewaskan 108 orang pada 25 Mei lalu.

Tak lama setelah insiden Houla, 14 negara Barat dan sekutunya, termasuk Turki dan Jepang, mengusir diplomat Suriah. Australia adalah negara pertama yang mengusir diplomat dari rezim Presiden Bashar al-Assad itu. Tindakan ini yang dibalas Suriah.

Kecewa

Sementara itu, oposisi Suriah menyatakan kecewa karena gencatan senjata antara oposisi dan rezim Assad, yang seharusnya dimulai 12 April, tak terwujud. Oposisi memilih tak lagi mematuhi jalan damai yang dimediasi utusan khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa dan Liga Arab untuk Suriah, Kofi Annan.

Jauh-jauh hari oposisi sudah memberi ultimatum kepada Assad. Jika Assad tidak mematuhi gencatan senjata dan tak mau menarik pasukan ke barak, maka oposisi akan melakukan perlawanan lebih sengit. Batas waktu dari oposisi ialah Jumat lalu.

Kubu oposisi menegaskan, batas waktu itu sudah terlampaui dan kekerasan yang dilakukan aparat terhadap oposisi atau rakyat sipil terus meningkat. Assad dinilai gagal menerapkan gencatan senjata. Oposisi kini sangat siap menyerang pasukan pemerintah untuk membela rakyat.

Salah satu bukti gencarnya perlawanan oposisi terjadi pada akhir pekan lalu. Lebih dari 80 tentara pemerintah tewas dibunuh pasukan oposisi. Tingkat perlawanan oposisi semakin berkualitas karena adanya aliran bantuan senjata dari luar.

”Kami sudah memutuskan untuk mengakhiri komitmen kami melakukan gencatan senjata. Kami telah memulai lagi serangan. Kami melakukan serangan defensif, yang berarti hanya menyerang pos pemeriksaan yang ada di setiap kota,” kata juru bicara Tentara Suriah Bebas (SFA), Mayor Sami al-Kurdi.

Menurut Kurdi, misi pemantau PBB di Suriah harus berganti nama menjadi ”misi penegakan perdamaian”. Dunia diminta memberlakukan zona larangan terbang dan zona penyangga untuk mendesak Assad turun. Ide itu sebenarnya selaras dengan usulan Barat, tetapi Rusia dan China justru menolaknya.

Kekerasan demi kekerasan yang terus terjadi, ditambah adanya pidato Assad di parlemen pada hari Minggu yang menegaskan harus ada perlawanan terhadap oposisi, semakin membuat situasi di Suriah tidak pasti. Rusia dan China tetap mementahkan setiap keinginan untuk melakukan intervensi militer atau memaksa Assad turun dari jabatan.

China, hari Selasa, kembali menegaskan sikapnya itu. Dikatakan, Beijing dan Moskwa memiliki pandangan sama dalam menyikapi krisis Suriah. Mereka menolak intervensi militer atau setiap upaya memaksakan pergantian rezim. Mereka mendorong agar dialog politik segera dimulai. (REUTERS/AP/AFP/CAL)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau