Jakarta 1

DPT Kacau, Tim Alex-Nono Akan Lapor Polisi

Kompas.com - 07/06/2012, 10:25 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Hampir seluruh tim sukses calon Gubernur dan calon Wakil Gubernur DKI Jakarta memprotes penetapan Daftar Pemilih Tetap (DPT) yang dikeluarkan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) Provinsi DKI Jakarta. Salah satu yang memprotes penetapan DPT itu adalah tim sukses Alex Noerdin-Nono Sampono. Anggota tim sukses Alex-Nono, Fatahillah Ramli, mengatakan, pihaknya kini tengah mengumpulkan barang bukti untuk membawa kasus ini ke ranah hukum.

"Sekarang kami masih dalam tahap pengumpulan sejumlah barang bukti. Nantinya, kalau sudah terkumpul kami akan melapor ke Polda Metro Jaya," ucap Fatah, Rabu (6/6/2012), saat dihubungi wartawan.

Ia menjelaskan, jumlah pemilih yang terdaftar dalam DPT sebanyak 6.982.179 orang atau hanya berkurang 62.812 orang dari Daftar Pemilih Sementara (DPS) yang juga diprotes hampir seluruh kandidat. "Di dalam DPT pun kami masih menemukan banyak data yang ganda atau juga yang belum terdaftar. Ini juga tidak jauh berbeda dengan data pemilih dalam DPT Pilpres tahun 2009," kata Fatah.

Tim sukses Alex-Nono, katanya, sekarang tengah mendata berapa banyak data pemilih fiktif dan juga pemilih yang tidak terdaftar. Jika semuanya sudah terdata, maka pihaknya akan mengumpulkan sejumlah orang yang datanya digandakan untuk kemudian melaporkan ini ke pihak kepolisian.

"Yang menjadi kesulitan kami adalah untuk membuat laporan ini, harus orangnya sendiri yang melapor. Orang yang merasa dirugikan atau datanya digandakan yang harus melapor, makanya kami sedang kumpulkan itu," ucap Fatah.

Calon Gubernur DKI Jakarta, Alex Noerdin, menyatakan, dirinya mengecam adanya manipulasi data pemilih yang terjadi dalam DPT. "Ini adalah kejahatan pilkada paling serius. Kami lima pasang kandidat sepakat untuk memprosesnya. Kami tidak terima hasilnya seperti ini," kata Alex.

Seperti diberitakan Kompas.com sebelumnya, KPU Provinsi DKI Jakarta akhirnya mengumumkan DPT Pilkada tahun 2012 dengan jumlah akhir 6.982.179 orang. Saat diumumkan pada Sabtu (2/6/2012) lalu, seluruh kandidat kecuali pasangan Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli langsung memprotesnya. Perdebatan alot terjadi hingga Minggu dini hari. Namun, KPU Provinsi DKI Jakarta tetap tidak mengubah keputusannya.

Anggota KPU DKI Jakarta, Jamaludin F Hasyim, menyatakan, pihaknya tidak akan mengubah DPT lantaran KPU harus menjalani tahapan Pilkada lainnya. "Harus jalan terus, tidak bisa dibatalkan. Semoga saja para kandidat menerimanya. Kalau pun masih ada protes, silakan saja mengajukannya ke Mahkamah Konstitusi (MK). Saya kira ini tidak hanya soal prosedur, tetapi juga soal penggiringan opini," kata Jamal dalam acara pelatihan jurnalistik "Meliput Pilkada DKI 2012" di GG House, Puncak.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau