Berharap Tak Ada Lagi Yang "Nyelonong" di Depan Presiden

Kompas.com - 08/06/2012, 15:40 WIB

DENPASAR, KOMPAS.com - Setelah heboh tukang kebun "nyelonong" di depan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono saat menghadiri acara di Nusa Dua, Bali, Oktober tahun lalu, Pangdam IX Udayana, Mayjen Leonard, tak  ingin kecolongan untuk yang kedua kalinya. Pangdam memerintahkan pengamanan yang ketat saat Presiden Yudhoyono membuka acara Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-34 di Bali, Minggu (8/6/2012).

"Saya tidak mau hal ini kecolongan lagi dan jangan sampai mengulangi kesalahan yang sama," ujar Pangdam saat gelar pasukan bersama TNI-Polri di Lapangan Renon, Denpasar, Jum'at (8/6/2012).

Pada saat pembukaan PKB nanti, Pangdam meminta kepada seluruh pasukan pengamanan untuk fokus kepada tugasnya dan tidak mempedulikan atraksi pawai yang melintas di depan mereka.

"PKB itu tontonan rakyat, bukan tontonan prajurit. Jangan sampai kita terlena dengan atraksi seni tersebut dan mengabaikan pengamanan terhadap kepala negara," tegas Pangdam.

Dua hari menjelang pembukaan PKB, seluruh anggota TNI dan Polri yang disiagakan sudah mulai mempersiapkan pengamanan di sekitar lokasi yang akan dihadiri oleh Kepala Negara.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau