Ini Dia Bakso Mawut yang Bikin Ketagihan!

Kompas.com - 09/06/2012, 07:42 WIB

MAGELANG, KOMPAS.com - Siapa tak suka bakso? Hampir semua orang tahu dan menyukai makanan yang satu ini. Saat ini bakso juga sudah banyak ragam rasa dan makin inovatif. Seperti Bakso Mawut yang ada di Kota Magelang Jateng, unik dan bikin nagih. Dalam Bahasa Jawa, kata "mawut" artinya tumpah, yang artinya dalam satu mangkuk ada banyak isinya. Antara lain bakso urat, bakso isi telur, bakso alus, iga sapi, mie, tahu, hingga sayuran dan tentu kuah yang gurih.

"Saking kompletnya seperti mau tumpah," ujar Nuri Ikhsanida, pemilik Bakso Mawut Magelang, Jumat (8/6/2012).

Kata "mawut" sengaja dipilih Dhini, panggilan akrabnya, karena diharapkan banyak pembeli yang datang sehingga bisa memberi rezeki yang tumpah melimpah. Bahkan, agar tidak dijiplak nama Bakso Mawut sudah dipatenkan di Dirjen HKI Kemenhumham RI sejak 16 Mei lalu.

Rahasia kelezatan bakso ini terletak pada pemilihan bahan baku dagingnya. Dhini sengaja memilih jenis daging sapi segar yang kualitas super, meski tergolong mahal namun kualitas rasa dijamin tidak mengecewakan. Berbeda dengan bakso pada umumnya, daging dalam bakso ini benar-benar dominan. "Banyak penjual bakso yang mencampurkan lebih banyak tepung ketimbang daging. Namun bakso kami benar-benar lebih banyak dagingnya, penggunaan tepung kanji hanya sebagai pengikat saja itu pun dalam jumlah yang sedikit," imbuh alumni jurusan Apoteker UAD Yogyakarta ini.

Ia juga sama sekali tidak mencampurkan bahan-bahan kimia berbahaya seperti boraks dan pengawet. Oleh karena itu, Dhini beserta tiga karyawannya setiap pagi harus belanja dan masak. "Itu sebabnya kenapa kami mulai buka jam 11.00, karena kami bena-benar ingin meyajikan bakso yang fresh," kata gadis berjilbab ini.

Untuk menarik pelanggan, Dhini membuat program-program khusus yang menarik, seperti pengunjung yang kebetulan memakai baju sama dengan warna seragam karyawan maka gratis minum es teh, atau yang kebetulan memiliki nama Dhini juga bakal dapat gratis minum es teh. Istimewanya lagi, jika pengunjung pada saat membeli merayakan ultah, maka gratis makan bakso sepuas dan sekeyang-kenyangnya. "Syaratnya hanya menunjukkan KTP," katanya.

Karena itu tak heran, meski usaha yang dirintisnya baru berjalan dua bulan, namun sudah memliki banyak pelanggan, mulai dari orang tua hingga anak kecil. Kedainya yang terletak di Jalan Panembahan Senopati No. 17C Kota Magelang ini tak pernah sepi pengunjung terutama pada jam makan siang dan sore hari. Harga yang dipatok pun relatif terjangkau, mulai dari Rp 7.000 hingga Rp 10.000 per porsi.

Harga tergantung jumlah dan jenis bakso, pengunjung bebas memilih mau yang mawut uratnya, mawut ndog/telurnya, mawut alusannya atau komplet plus daging iga sapi. "Semuanya nikmat dengan atau tanpa kecap, saus dan sambel," katanya.

Dalam sehari rata-rata Dhini bisa menghabiskan daging 7 kg, urat 3 kg dan iga hingga 5 kg. Jika dirupiahkan omzetnya bisa mencapai Rp 1-2 juta per hari. Namun demikian tak membuat Dhini sombong, setiap hari Jumat ia selalu menyisihkan 20 persen dari omzetnya untuk bersedekah. Menurutnya, usaha tersebut tidak hanya semata untuk memperkaya diri namun juga ingin memberi manfaat bagi sesama. "Jadi pengunjung yang membeli bakso pada hari Jumat juga turut bersedekah," tutur warga Perumahan Depkes Kramat Magelang ini.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau