Presiden Akan Buka PKB

Kompas.com - 09/06/2012, 20:27 WIB

DENPASAR, KOMPAS.com--Presiden Susilo Bambang Yudhoyono akan membuka Pesta Kesenian Bali (PKB) XXXIV, aktivitas seni tahunan seniman Pulau Dewata, Minggu, 10 Juni 2012.

"Pembukaan PKB dipusatkan di panggung terbuka Ardha Candra Taman Budaya Denpasar pada Minggu malam sekitar pukul 20.00 waktu setempat," kata Kepala Biro Humas Pemprov Bali I Ketut Teneng di Denpasar, Sabtu.

Ia mengatakan, sebelum acara pembukaan PKB, kepala negara didampingi sejumlah menteri Kabinet Indonesia bersatu dan Gubernur Bali Made Mangku Pastika akan menyaksikan pawai budaya.

Pawai budaya yang melibatkan duta seni dari delapan kabupaten, kota di Bali, lima perguruan tinggi dan tim kesenian dari sejumlah daerah di Indonesia itu berlangsung di depan Monumen Bajra Sandhi, kawasan Niti Mandala Renon mulai pukul 14.00 Wita.

Menandai dimulainya pawai budaya Presiden SBY didampingi Gubernur Bali Made Mangku Pastika akan membunyikan instrumen musik pertanian "okokan" di panggung kehormatan.

Puluhan seniman gong Gede Saih Pitu, Semara Pagulingan dan jegog, di sekitar panggung kehormatan itu, begitu okokan digoyangkan dan mengeluarkan suara langsung disambut gebyar oleh belasan seniman.

Mengawali pawai tampil sekitar 125 mahasiswa Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar memainkan drumband tradisional "Adi Merdangga" dan tari "Siwa Nataraja", disusul dengan menampilan duta seni dari delapan kabupaten dan satu kota di Bali serta tim kesenian dari sejumlah daerah di Indonesia.

Pawai budaya PKB itu diperkirakan berlangsung selama dua jam hingga pukul 16.00 waktu setempat dan dilanjutkan dengan acara pemukaan PKB di panggung terbuka Ardha Candra Taman Budaya Denpasar Minggu malam sekitar pukul 20.00 WITA.

Acara pembukaan PKB itu diawali dengan penampilan sekaligus peluncuran tari Bali Dwipa Jaya, tari maskot Pemprov Bali.

Tari maskot Bali itu diciptakan oleh tim Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar yang dibawakan 13 penari terdiri atas seorang pria dan 12 penari wanita.

Setelah acara pokok dipentaskan senderatari klosal "oratorium Purusada Santha" garapan ISI Denpasar. Sekitar 250 mahasiswa dan dosen ISI Denpasar memperkuat pementasan klosal yang berdurasi satu jam.

Pembantu Rektur II ISI Denpasar Gede Arya Sugiartha yang juga ketua seksi pawai budaya PKB menjelaskan, sendratari "Purusada Santha" diangkat dari Kekawin Sutasoma menyebutkan Bhinneka Tunggal Ika adalah sasanti Negara Indonesia yang telah menyalakan api kesadaran masyarakat sebagai sebuah bangsa yang dirajut dari keberagaman.

Pementasan dibagi dalam tiga babak, yakni babak pertama mengisahkan puncak kejayaan zaman Majapahit pada pemerintahan maharaja Rajasanegara atau Hayam Wuruk yang mendapat dukungan penuh dedikasi oleh mahapatih Amangkubumi Gajah Mada.

Babak kedua mengisahkan seorang pangeran Hastina yang bernama Sutasoma, putra raja Sri Mahaketu itu tidak mau hidup dalam gemilang kemewahan keraton melainkan memilih menjadi pertapa di hutan untuk mencari kehidupan sejati.

Babak ketiga kisah Sutasoma yang digubah menjadi kakawin oleh Mpu Tantular itu, inti sarinya kemudian dipakai lambang persatuan Negara Indonesia. Sasanti Bhinneka Tunggal Ika yang terbentang di kaki Burung Garuda dipetik dari Kakawin Sutasoma pupuh 139, bait kelima.

Kisah penuh kasih Sutasoma dan kandungan rasa toleransi keberagaman Bhinneka Tunggal Ika itu, dalam masyarakat Indonesia yang berbangsa, berbahasa, dan bertanah air satu, diimplementasikan dalam ekspresi budaya dan ungkapan damai jagat seni, ujar Arya Sugiartha.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau