Anak Gizi Buruk Terabaikan

Kompas.com - 10/06/2012, 03:10 WIB

Di Ibu Kota ini masih saja ditemukan anak terindikasi gizi buruk. Bahkan, kali ini ditemukan tiga anak dan mereka tinggal bertetangga di permukiman kumuh. Salah satunya kini menghadapi kendala pengobatan, yakni Halimah (4).

Untuk menjangkau tempat tinggal ketiga anak ini, jalan yang ditempuh harus melalui titian papan yang hanya bisa dilalui satu orang. Ketiganya tinggal bersama orangtua mereka di permukiman yang berdiri di atas rawa. Lokasinya tepat di belakang Museum Bahari, dan hanya beberapa ratus meter dari Pelabuhan Sunda Kelapa, Penjaringan, Jakarta Utara.

Saat dijumpai di rumahnya, Halimah sedang bermain dengan adiknya, Intan (2). Tampak sekali perbedaan di antara keduanya. Adiknya yang baru dua tahun itu sudah dapat berlari dan berbicara dengan jelas dan lancar, sementara Halimah belum bisa berjalan dan harus digendong ibunya.

Bahkan, Halimah tak bisa duduk sendiri dan harus dibantu ibunya. Saat berada di dalam rumah, dia hanya dapat menggeser tubuhnya agar bisa berpindah tempat.

Gigi balita ini tampak keropos dan ia belum bisa berbicara dengan jelas.

Menurut Uum Cahriyah (43), ibu balita ini, sejak usia empat bulan, Halimah sudah mengidap gizi buruk. Balita itu pun sempat dirawat di RSUD Tarakan, Jakarta Pusat.

”Sekarang saya diminta dokter di RS Tarakan untuk memeriksakan kepala Halimah ke RS Cipto Mangunkusumo. Katanya di kepalanya ada kelainan,” kata Uum.

Namun, saat di RSCM, ujar Uum, dia diminta untuk melakukan CT-scan pada balitanya. Untuk pemeriksaan itu, dia dikenai biaya Rp 1,6 juta, dan itu tak bisa menggunakan tunjangan dari surat keterangan tidak mampu (SKTM).

Sebagai istri kuli pelabuhan, Uum mengaku tak mempunyai uang sebesar itu untuk membayar CT-scan. ”Dalam sehari saja, suami saya hanya bisa memberi uang Rp 30.000 untuk makan anak-anak,” kata ibu lima anak ini.

Namun, Uum tak patah semangat. Dia tetap berusaha mengurus SKTM supaya bisa membawa berobat anaknya ke rumah sakit lain.

Menurut salah seorang anggota perlindungan masyarakat (Linmas) di lingkungan permukiman kumuh itu, Gunawan (40), kondisi kekurangan gizi pada anak di lingkungannya sudah cukup memprihatinkan.

”Ada dua anak lagi yang seperti Halimah. Bahkan, mereka sudah usia 7 dan 8 tahun. Keduanya tidak bisa berjalan,” katanya.

Kedua anak yang terindikasi gizi buruk itu adalah Afif (7) dan Waidah (8). ”Setiap hari saya melihat keduanya digendong ibunya berangkat ke sekolah,” kata Gunawan.

Menurut paman Afif, Aji (30), meskipun sudah sekolah, Afif belum bisa berbicara lancar. Padahal, ujarnya, sudah setiap bulan anak itu dibawa berobat ke pengobatan alternatif.

”Kalau dibawa ke dokter, kami tidak punya biaya. Sebab, orangtua Afif dan saya hanya bekerja serabutan,” jelas Aji.(MDN)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau