Stres Penyebab Gigi Ngilu dan Meradang

Kompas.com - 11/06/2012, 09:51 WIB

TANYA :

Dokter, saya mengalami gusi meradang dan gigi ngilu yang sering sekali kambuh. Begitu kambuh sakitnya tak tertahankan. Saya sudah ke dokter gigi dan karang gigi saya sudah dibersihkan. Dokter gigi menyatakan bahwa gigi saya tidak ada yang berlubang dan gusinya tidak ada yang luka.  Tetapi memang mengalami pembengkakan. Dokter menyatakan bahwa kemungkinan sering kambuhnya adalah karena faktor stres, kondisi tubuh yang tidak sehat atau diabetes. Kebetulan saya mempunyai gejala diabetes dengan nila gula darah acak saya 232, tapi saya belum melakukan pemeriksaan secara lengkap untuk mengetahui apakah memang saya menderita diabetes.

Pertanyaan saya adalah : 1. Apakah benar gusi meradang dan ngilu gigi saya bisa disebabkan stres, kondisi tubuh yg tidak sehat ataupun diabetes? 2. obat apa yang bisa saya pakai untuk mencegah berulangnya penyakit itu kambuh. Selama ini, saya menggunakan obat anti nyeri jika sedang kambuh (baik asam mefenamat, oskadon ataupun nonflamin). Kata dokter gigi saya sebaiknya tidak terlalu sering konsumsi obat karena akan membuat ginjal bekerja terlalu berat. Tapi kalo tidak minum obat saya tidak tahan nyerinya. mohon solusinya. Terima kasih. 

(Nunik Setyo Utami, 37, Surabaya)

JAWAB :

Ibu Nunik yang baik

Gusi meradang memang dapat disebabkan oleh keadaan stres, kondisi tubuh, dan diabetes yang ibu derita. Semua kondisi tersebut dapat menurunkan ketahanan tubuh ibu terhadap infeksi mikroorganisme yang datang, ditambah adanya plak dan karang gigi yang akan memicu terjadinya peradangan gusi. Oleh karena itu, ibu harus menjaga kesehatan rongga mulut  dengan baik, mengontrol diabetesnya, serta menjaga kondisi tubuh ibu dalam keadaan sehat dan bebas stres.

Masalah ngilu gigi kurang berhubungan dengan keadaan stres. Beberapa penyebab gigi ngilu adalah gusi yang turun, abrasi permukaan akar gigi akibat teknik menyikat gigi yang salah, serta prosedur pembersihan karang gigi yang salah oleh dokter gigi juga dapat menyebabkan ngilu. Selain itu, prosedur pemutihan gigi dan adanya retak pada gigi juga dapat memicu terjadinya ngilu gigi.

Ibu tidak menjelaskan apakah ibu memiliki kebiasaan buruk mengerot-ngerot gigi pada saat tidur atau bruksism (hal ini bisa ditanyakan kepada suami anda apakah pada saat ibu tidur terdengar bunyi mengerot-ngerot gigi? atau ditandai rasa sakit pada sendi dibagian depan telinga ibu pada saat bangun pagi), atau menggertakan gigi atas dan bawah jika sedang stres? Jika iya, hal ini mungkin saja menjadi pemicu gigi ngilu anda. Konsultasikan kepada dokter gigi anda dan psikolog untuk mengatasi rasa stres anda.

Untuk sementara ini, hentikan saja obat-obatan tersebut, gunakan saja pasta gigi untuk gigi sensitif. Jika memang nyeri sudah benar-benar tidak tertahankan, maka baru boleh menggunakan obat minum anti nyeri. Sebaiknya dicari dulu penyebab utamanya, sehingga ibu akan mendapatkan perawatan yang tepat.

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau