Myanmar

Status Darurat untuk Provinsi Rakhine

Kompas.com - 12/06/2012, 05:08 WIB

SITTWE, SENIN - Aparat keamanan dan militer terus berjaga-jaga di sekitar lokasi pecahnya insiden kerusuhan berdarah di kawasan barat Myanmar, Provinsi Rakhine. Situasi ini ditetapkan menyusul bentrokan berdarah antara warga mayoritas Buddha dan warga minoritas Muslim pecah akhir pekan lalu, dimulai dari kota Maungdaw dan kemudian melebar hingga ke ibu kota Rakhine, Sittwe.

Dalam pidatonya di stasiun televisi pemerintah selama sembilan menit, Presiden Thein Sein, Senin (11/6), mengumumkan status darurat di seluruh wilayah yang berbatasan dengan Banglades itu.

Kekacauan bernuansa sektarian ini menjadi ujian berat bagi pemerintahan Thein Sein, yang beberapa waktu lalu banyak dipuji sebagai salah satu arsitek perubahan di negeri tersebut setelah berakhirnya rezim junta militer.

Di lokasi, aparat keamanan mulai menyisir dan memindahkan jenazah korban yang tewas dari puing-puing rumah dan bangunan yang terbakar. Ratusan rumah, toko, penginapan, biara, dan tempat-tempat ibadah hancur terbakar. Kehadiran aparat keamanan dan militer di lokasi sedikit memberi ketenangan bagi warga yang ketakutan.

”Situasi sepertinya sudah kembali normal begitu personel militer datang ke kota untuk mengamankan keadaan,” ujar salah seorang warga.

Rohingya

Mayoritas penduduk Provinsi Rakhine menganut agama Buddha. Akan tetapi, populasi warga Muslim di wilayah itu juga terbilang besar. Sebagian besar warga Muslim itu berlatar belakang etnis Rohingya, atau yang biasa disebut orang ”Bengali” oleh warga etnis lain di Myanmar.

Selama ini keberadaan dan status etnis Rohingya tidak pernah diakui secara resmi oleh pemerintah. Penduduk Myanmar sendiri memiliki sentimen negatif yang besar terhadap mereka. Oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa, etnis Rohingya dideskripsikan sebagai kelompok minoritas paling teraniaya di dunia.

Baik warga Buddha maupun Muslim sebetulnya sama-sama ketakutan. Namun, mereka juga saling menuduh masing-masing pihak adalah penyebab kerusuhan berdarah.

”Saya sangat khawatir. Banyak warga Rakhine menjadi sangat rasialis. Mereka seolah sudah tidak mau lagi hidup berdampingan dengan damai,” ujar Abu Tahay dari Partai Nasional Demokratik untuk Pembangunan (NDPD), partai politik yang mewakili aspirasi warga Rohingya.

Tahay juga menyebut aparat keamanan menembaki warga Rohingya. Sementara itu, tidak sedikit pula warga Muslim lain dibunuh warga penganut Buddha.

Pejabat kantor kepresidenan Myanmar, Zaw Htay, mengatakan Presiden telah memerintahkan aparat militer untuk menjaga dan mengamankan bandar udara serta desa-desa di wilayah Rakhine.

Hingga kini, jumlah korban resmi menurut data pemerintah adalah tujuh orang. Kerusuhan itu, menurut Presiden Sein, disebut dipicu oleh ”kebencian dan hasrat balas dendam, yang dilandasi konflik agama dan kebangsaan”.

Konflik macam itu, tambah Sein, dapat dengan mudah menyebar ke wilayah lain dan bisa berdampak buruk pada stabilitas nasional di negeri yang baru saja terbuka dan berupaya mereformasi diri.

Setelah kerusuhan berdarah itu, PBB memutuskan mengevakuasi sementara 44 dari 150 personelnya dari wilayah bergolak tersebut. Sebagian staf lokal tetap tinggal di Rakhine untuk memantau situasi.

Sementara itu dari Teknaf, Banglades, dikabarkan sebanyak delapan kapal motor pengangkut 300 pengungsi etnis Rohingya, kebanyakan anak-anak dan perempuan yang ketakutan, diusir kembali ke Myanmar oleh aparat penjaga pantai Banglades.

(AFP/BBC/DWA)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau