Ceko bermain buruk saat menghadapi Rusia pada laga penyisihan Grup A Piala Eropa, 9 Juni lalu. Skor timpang 1-4 itu diakui kapten tim Ceko, Tomas Rosicky. ”Kami kalah. Pertandingan jelek. Tak perlu panik adalah jalan keluarnya. Ceko belum mati,” ujarnya menegaskan.
Kalimat terakhir Rosicky menggarisbawahi bahwa api semangat tim ”Kereta Cepat” belum padam. Janji itu akan digelorakan saat melawan Yunani dalam pertandingan kedua Ceko, 12 Juni 2012 di Wroclaw, Polandia. Ceko tak mau penguasaan bola minim dan kekuatan melorot drastis terjadi lagi.
Tekad Rosicky berjuang semaksimal mungkin akan menempatkan posisi gelandang serang berusia 31 tahun itu kerap berhadapan dengan Giorgos Karagounis. Punya posisi dengan jabatan yang sama pula, Karagounis adalah kapten tim nasional Yunani dan bermain sebagai gelandang.
Keunggulan Rosicky yang bermain di klub Arsenal adalah mampu menerapkan semacam total football, prinsip bermain kondang Belanda. Rosicky adalah pemain yang mampu membingungkan lawan-lawannya di lini tengah dengan bergonta-ganti peran.
Keahlian mumpuni Rosicky merupakan binaan berbagai laga sejak ia berusia 19 tahun. Kiprah Rosicky membuatnya direkrut membela tim nasional Ceko sejak tahun 2000 dan langsung diturunkan dalam Piala Eropa pada tahun itu. Selanjutnya, Piala Eropa 2004 di Portugal menjadi pencapaian terjauh Rosicky saat Ceko mencapai babak semifinal dan kian terasah ketika mengikuti Piala Dunia Jerman 2006.
Setara dengan Rosicky, Karagounis juga jawara di lapangan tengah. Pengalamannya dengan tim Yunani yang dibentuk melalui lebih dari 100 pertandingan menunjukkan betapa pentingnya arti Karagounis.
Dalam setiap laga, Karagounis menunjukkan semangatnya. Ia menunjukkan energi besar untuk memenangkan semua laga dan seolah tak pernah merasa letih.
Gelandang yang bermain di klub Panathinaikos itu diingat karena kiprahnya menyumbang gol pertama dalam Piala Eropa 2004. Gol saat melawan Portugal itu dicetak belum lama setelah wasit meniup peluit tanda pertandingan dimulai, atau hanya tujuh menit setelahnya.
Karagounis pula yang menjadi salah satu pemain dengan andil membawa Yunani menjuarai pesta akbar sepak bola Eropa 2004 tersebut.
Meski demikian, bukan berarti Yunani, khususnya Karagounis, tak punya beban. Tak bisa disangkal, Karagounis sempat mengecewakan publik Yunani saat gagal mengeksekusi tendangan penalti dalam duel melawan Polandia, 8 Juni lalu. Tembakan Karagounis berhasil diangkis kiper Przemyslaw Tyton.
Namun, Yunani tampaknya tak mudah dipatahkan Ceko. Berdasarkan rekam jejak, dalam 30 tahun terakhir dalam laga apa pun, Yunani belum pernah ditaklukkan Ceko. Fakta ini tentu bisa membuat Karagounis memulihkan kepercayaan dirinya.